Efek Samping Vaksin
Vaksin adalah segala persiapan dimaksudkan untuk menghasilkan kekebalan terhadap penyakit dengan merangsang produksi antibodi. Vaksin termasuk, misalnya, suspensi mikroorganisme dibunuh atau dilemahkan, atau produk atau turunan dari mikroorganisme. Metode yang paling umum dari pemberian vaksin adalah melalui suntikan, namun ada juga yang diberikan melalui mulut atau semprot hidung
Vaksinasi adalah pemberian vaksin kedalam tubuh untuk memberikan kekebalan terhadap suatu penyakit. Pencegahan dan pengendalian penyakit melalui vaksinasi akan memberikan dampak yang lebih baik dibandingkan dengan kemoterapi karena tidak menimbulkan residu antibakteri pada ternak dan tidak menimbulkan resistensi bakteri. Vaksin bakteri terdiri dari dua bentuk yaitu vaksin aktif dan vaksin inaktif.
Pemberian vaksin adalah salah satu cara yang baik untuk memberantas penyakit pada hewan ternak seperti sapi, babi, ayam dan juga hewan lainnya karena vaksin merupakan anti body. Dengan pemberian vaksin maka akan dapat memperpanjang umur dari hewan ternak dan peliharaan sehingga jumlah hasil produksi dan pertumbuhan hewan tersebut menjadi lebih baik (Nino dkk., 2014).
Faktor terpenting yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan vaksin adalah keseimbangan antara imunitas yang akan dicapai dengan reaksi yang tidak diinginkan yang mungkin timbul. Untuk mencapai imunogenisitas yang tinggi, vaksin harus berisi antigen yang efektif untuk merangsang respons imun protektif resipien dengan nilai antibodi di atas ambang pencegahan untuk jangka waktu yang cukup panjang. Sebaliknya antigen harus diupayakan mempunyai sifat reaktogenisitas yang rendah sehingga tidak menimbulkan efek samping yang berat, dan yang jauh lebih ringan apabila dibandingkan dengan komplikasi penyakit yang bersangkutan secara alami.
Pembuatan vaksin dengan kandungan spora yag terlalu tinggi ataupun penggunaan seed vaksin yang tidak benar dapat menyebabkan efek proteolitik dan toksin yang dihasilkan tidak dapat dinetralisasi oleh tubuh sehingga dapat menyebabkan reaksi anafilaksis dan shock. Demikian pula jika terjadi kesalahan dalam memproduksi maka akan terjadi efek samping yang merugikan (Hadinegoro, 2000).
Efek samping yang ditimbulkan oleh pemberian vaksin dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi lainnya (Ertawatin dkk., 2014).
Secara khusus KIPI dapat didefinisikan sebagai kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi, baik oleh karena efek vaksin maupun efek samping, toksisitas, reaksi sensitivitas, efek farmakologis, kesalahan program, reaksi suntikan atau penyebab lain yang tidak dapat ditentukan. Secara umum reaksi KIPI dapat dikategorikan sebagai akibat kesalahan program, reaksi suntikan dan reaksi vaksin.
1. Kesalahan Program. Sebagian besar berhubungan dengan kesalahan teknik pelaksaan vaksinasi, misalnya kelebihan dosis, kesalahan memilih lokasi dan cara menyuntik, sterilitas dan penyimpanan vaksin.
2. Reaksi Suntikan. Reaksi suntikan tidak berhubungan dengan kandungan vaksin, tetapi lebih karena trauma akibat tusukan jarum, misalnya bengkak, nyeri dan kemerahan di tempat suntikan.
3. Reaksi Vaksin. Keluhan yang muncul umumnya bersifat ringan (demam, bercak merah, nyeri sendi, pusing, nyeri otot) meskipun hal ini jarang terjadi namun reaksi vaksin dapat bersifat berat, misalnya reaksi serius (anafilaksis) dan kejang.
Vaksinasi adalah pemberian vaksin kedalam tubuh untuk memberikan kekebalan terhadap suatu penyakit. Pencegahan dan pengendalian penyakit melalui vaksinasi akan memberikan dampak yang lebih baik dibandingkan dengan kemoterapi karena tidak menimbulkan residu antibakteri pada ternak dan tidak menimbulkan resistensi bakteri. Vaksin bakteri terdiri dari dua bentuk yaitu vaksin aktif dan vaksin inaktif.
Pemberian vaksin adalah salah satu cara yang baik untuk memberantas penyakit pada hewan ternak seperti sapi, babi, ayam dan juga hewan lainnya karena vaksin merupakan anti body. Dengan pemberian vaksin maka akan dapat memperpanjang umur dari hewan ternak dan peliharaan sehingga jumlah hasil produksi dan pertumbuhan hewan tersebut menjadi lebih baik (Nino dkk., 2014).
Faktor terpenting yang harus dipertimbangkan dalam pembuatan vaksin adalah keseimbangan antara imunitas yang akan dicapai dengan reaksi yang tidak diinginkan yang mungkin timbul. Untuk mencapai imunogenisitas yang tinggi, vaksin harus berisi antigen yang efektif untuk merangsang respons imun protektif resipien dengan nilai antibodi di atas ambang pencegahan untuk jangka waktu yang cukup panjang. Sebaliknya antigen harus diupayakan mempunyai sifat reaktogenisitas yang rendah sehingga tidak menimbulkan efek samping yang berat, dan yang jauh lebih ringan apabila dibandingkan dengan komplikasi penyakit yang bersangkutan secara alami.
Pembuatan vaksin dengan kandungan spora yag terlalu tinggi ataupun penggunaan seed vaksin yang tidak benar dapat menyebabkan efek proteolitik dan toksin yang dihasilkan tidak dapat dinetralisasi oleh tubuh sehingga dapat menyebabkan reaksi anafilaksis dan shock. Demikian pula jika terjadi kesalahan dalam memproduksi maka akan terjadi efek samping yang merugikan (Hadinegoro, 2000).
Efek samping yang ditimbulkan oleh pemberian vaksin dapat timbul secara cepat maupun lambat dan dapat dibagi menjadi gejala lokal, sistemik, reaksi susunan saraf pusat, serta reaksi lainnya (Ertawatin dkk., 2014).
Secara khusus KIPI dapat didefinisikan sebagai kejadian medik yang berhubungan dengan imunisasi, baik oleh karena efek vaksin maupun efek samping, toksisitas, reaksi sensitivitas, efek farmakologis, kesalahan program, reaksi suntikan atau penyebab lain yang tidak dapat ditentukan. Secara umum reaksi KIPI dapat dikategorikan sebagai akibat kesalahan program, reaksi suntikan dan reaksi vaksin.
1. Kesalahan Program. Sebagian besar berhubungan dengan kesalahan teknik pelaksaan vaksinasi, misalnya kelebihan dosis, kesalahan memilih lokasi dan cara menyuntik, sterilitas dan penyimpanan vaksin.
2. Reaksi Suntikan. Reaksi suntikan tidak berhubungan dengan kandungan vaksin, tetapi lebih karena trauma akibat tusukan jarum, misalnya bengkak, nyeri dan kemerahan di tempat suntikan.
3. Reaksi Vaksin. Keluhan yang muncul umumnya bersifat ringan (demam, bercak merah, nyeri sendi, pusing, nyeri otot) meskipun hal ini jarang terjadi namun reaksi vaksin dapat bersifat berat, misalnya reaksi serius (anafilaksis) dan kejang.
Komentar
Posting Komentar