makalah farmakologi II Antiseptik
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Zat antimikroba adalah senyawa yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Zat antimikroba dapat bersifat membunuh mikroorganisme (microbicidal) atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme (microbiostatic). Antiseptik adalah senyawa kimia yang digunakan untuk menekan pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan tubuh, misalnya kulit. Antiseptik selalu digunakan dalam berbagai kondisi medis baik untuk membersihkan luka terbuka ataupun disaat persiapan operasi di akan diberikan antiseptik terlebih dahulu untuk mencegah bakteri bertumbuh dan masuk ke dalam bagian operasi tersebut.
Antiseptik berbeda dengan antibiotik dan disinfektan, yaitu antibiotik digunakan untuk membunuh mikroorganisme di dalam tubuh, dan disinfektan digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada benda mati. Hal ini disebabkan antiseptik lebih aman diaplikasikan pada jaringan hidup.
1.2 Rumusan Masalah
• Apa yang dimaksud dengan antiseptik?
• Bagaimana kerja dari antiseptik?
• Apa sajakah golongan antiseptik?
1.3 Tujuan
• Untuk mengetahui definisi dari antiseptik
• Untuk mengetahui mekanisme kerja dari antiseptik
• Untuk mengetahui jenis-jenis atau golongan dari antiseptik
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Antiseptik
Secara umum antiseptik adalah desinfektan yang nontoksik karena digunakan untuk kulit, mukosa, atau jaringan hidup lainnya. Sebagai antiseptik dituntut persyaratan :
1. Memiliki spektrum luas, artinya efektif untuk membunuh bakteri, virus, jamur dan sebagainya
2. Tidak meransang kulit maupun mukosa
3. Toksisitan dan daya adsorbsi melalui mukosa dan kulit rendah
4. Efek kerjanya cepat dan bertahan lama
5. Efektifitas kerjanya tidak terpengaruh oleh adanya darah dan nanah.
(Darmadi. 2008)
Antiseptik adalah suatu substansi untuk melawan infeksi atau mencegah pertumbuhan atau kerja mikroorganisme dengan cara menghancurkannya ataupun menghambat pertumbuhannya serta aktifitasnya. Istilah desinfektan dibedakan dari antiseptik dalam hal penggunaanya. Untuk desinfektan biasanya digunakan pada bendabenda atau materi tidak hidup, sedangkan antiseptik digunakan untuk jaringan hidup.
Antiseptik merupakan zat yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme yang hidup di permukaan tubuh. Mekanisme kerja antiseptik ini antara lain merusak lemak pada membran sel bakteri atau dengan cara menghambat salah satu kerja enzim pada bakteri yang berperan dalam biosintesis asam lemak (Isadiartuti & Retno, 2005).
Antiseptik adalah zat zat yang membunuh atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Istilah ini terutama digunakan untuk sediaan yang dipakai pada jaringan hidup. (Staff pengajar departement farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009).
Menurut submer lain antiseptik yang ideal diantaranya :
1. Efektifitas germisid tinggi
2. Bersifat letal terhadap mikroorganisme
3. Kerjanya cepat dan tahan lama
4. Spektrum sempit terhadap mikroorganisme yang sensitive
5. Tegangan permukaan yang rendah untuk penggunaan topical
6. Indeks terapi tinggi
7. Tidak memberikan efek sistemik bila diberikan secara topikal dan tidak diadsorbsi. (Staff pengajar departement farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009)
2.2 Mekanisme Kerja Antiseptik
Mekanisme kerja antiseptik antara lain merusak lemak pada membran sel bakteri atau dengan cara menghambat salah satu kerja enzim pada bakteri yang berperan dalam biosintesis asam lemak (Isadiartuti dan Retno, 2005).
Menurut Siswandono dan Sukardjo mekanisme kerja antiseptik antara lain penginaktifan enzim, denaturasi protein, mencegah permeabilitas membran, interkalasi ke dalam Deoksiribosa Nukleat Acid (DNA) dan pembentukan kelat.
2.2.1 Penginaktifan enzim tertentu
Penginaktifan enzim tertentu adalah mekanisme umum dari senyawa antiseptika, seperti turunan aldehid, etilen oksida. Aldehida dan etilen oksid bekerja dengan mengalkilasi secara langsung gugus nukleofil seperti gugus-gugus amino, karboksil, hidroksil, fenol dan tiol dari protein sel bakteri
2.2.2 Denaturasi Protein
Turunan alkohol, turunan fenol bekerja sebagai antiseptik dengan cara denaturasi dan koagulasi protein sel bakteri. Senyawa alkohol dapat menimbulkan denaturasi protein sel bakteri dan proses tersebut memerlukan air. Hal ini ditunjang oleh fakta bahwa alkohol absolut, yang tidak mengandung air, mempunyai aktivitas antibakteri jauh lebih rendah dibanding alkohol yang mengandung air. Selain itu turunan alkohol juga menghambat sistem fosforilasi dan efeknya terlihat jelas pada mitokondria, yaitu pada hubungan substrat nikotinamid adenine nukleotida (NAD). Turunan fenol berinteraksi dengan sel bakteri melalui proses absorbsi yang melibatkan ikatan hidrogen. Pada kadar rendah terbentuk kompleks protein fenol dengan ikatan yang lemah dan segera mengalami peruraian, diikuti penetrasi fenol ke dalam sel menyebabkan presipitasi serta denaturasi protein. Pada kadar tinggi fenol menyebabkan koagulasi protein dan sel membran mengalami lisis.
2.2.3 Mengubah Permeabilitas
Turunan fenol dapat mengubah permeabilitas membran sel bakteri, sehingga menimbulkan kebocoran konstituen sel yang esensial dan mengakibatkan bakteri mengalami kematian
2.2.4 Interaksi ke dalam DNA
Beberapa zat warna, seperti turunan trifenilmetan dan akridin, bekerja sebagai antibakteri dengan mengikat secara kuat asam nukleat, menghambat sintesis DNA dan menyebabkan perubahan kerangka mutasi pada sintesis protein. Turunan trifenil metan seperti gentian violet adalah kation aktif, dapat berkompetisi dengan ikatan hidrogen membentuk kompleks yang tak terionisasi dengan gugus bermuatan negatif dari konstituen sel, terjadi pemblokan proses biologis yang penting untuk kehidupan bakteri sehingga bakteri mengalami kematian
2.2.5 Pembentukan Kelat
Beberapa turunan fenol seperti heksaklorofen dan oksikuinolin, dapat membentuk kelat dengan ion Fe danCu, kemudian bentuk kelat tersebut dialihkan ke dalam sel bakteri. Kadar yang tinggi dari ion – ion logam didalam sel menyebabkan gangguan fungsi enzim – enzim sehingga mikroorganisme mengalami kematian.
2.3 Jenis-jenis Antiseptik
Berdasarkan sifat kimianya, antiseptik digolongkan dalam golongan fenol, alkohol, aldehid asam, halogen, peroksidan dan logam berat.
2.3.1 Golongan fenol
Yang termasuk ke dalam golongan fenol ialah : fenol, timol, resorsinol dan
heksaklorofen.
1. Fenol. Fenol merupakan zat pembaku daya antiseptik obat lain sehingga daya antiseptik diyatakan dengan koefesien fenol. Obat ini bukan antiseptik yang kuat Banyak obat lain yang mempunyai daya antiseptik lebih kuat. Dalam kadar 0,01 %- 1%, fenol bersifat bakteriostatik. Larutan 1,6% bersifat bakterisid, yang dapat mengadaka koagulasi protein. Ikatan fenol dengan protein mudah lepas, sehinggamfenol dapat mempenetrasi ke dalam kulit utuh. Larutan 1,3% bersifat fungisid, berguna untuk sterilisasi alat kedokteran. Intoksikasi fenol menyebabkan tremor dan eksitasi.
2. Timol. Obat ini mempunyai koefesien fenol 30, bersifat bakterisid, antelmintik dan fungisid, terutama efektif untuk infeksi jamur (aktinomikosis, blastomikosis, kokisdioidomikosis dan kandidiasis). Sediaan timol terdapat dalam bentuk tingtur (larutan dalam alkohol) 1% dan selep 10%.
3. Resorsinol. Sifat obat ini mirip fenol, berefek bakterisid dan fungisid. Di klinik digunakan untuk mengobati infeksi jamur di kulit, eksim, psoriasis dan dermatitis seboroik. Resorsinol bersifat keratolitik dan iritan ringan.
4. Heksaklorofen. Heksaklorofen ialah senyawa bisfenol yang mengandung klor. Heksaklorofen kadar rendah dapat menganggu transport elektron kuman dan menghambat enzim terikat pada membran. Konsentrasi tinggi dapat menyebabkan pecahnya membran kuman. Heksaklorofen lebih aktif terhdadap kuman Gram positif dibandingkan dengan kuman Gram-Negatif, efek bakteriostatiknya lebing tinggi tetapi dibutuhkan waktu kontak yang cukup, hampir tidak efektif untuk spora.
2.3.2 Golongan alcohol
1. Etanol 70% . Berpotensi antiseptik yang optimal. Bila kadar alkohol ditinggikan akan menyebkan prepitasi protein dan tidak efektif sebagai antiseptik, karena spora tidak dimatikan. Alkohol meningkatkan aktivitas antiseptik lain misalnya klorheksidin, yodium, yodofor, heksaklorofen bila diberikan kombinasi.
2. Glikol dipakai untuk membunuh kuman penyebab penyakit yang ditularkan melalui udara (desinfektan Udara). Bakteri ditularkan melalui udara dalam titik-titik air yang halus, uap glikol akan larut dalam titik-titik air dan mematikan bakteri tersebut.
2.3.3 Golongan aldehid
Golongan ini ialah formaldehid. Larutan formalin 1% dapat bersifat bakterisid, tetapi perlu kontak lama. Formaldehid efektif terhadap kuman, jamur, bakteri dan virus, tetapi kerjanya lambat. Kadar 8% digunakan untuk sterilisasi alat-alat kedokteran dan sterilisasi sputum pasien tuberkulosis. Foramlin digunakan untuk pengawatan mayat dan spesimen penelitian. Sifat merusak jaringan formaldehid dapat menimbulkan efek toksik lokal dan menimbulkan reaksi alergi. Kontak berulang dapat menyebabkan dermatitis eksematoid.
2.3.4 Golongan Halogen
1. Klorheksidin. Klorheksidin ialah suatu bisbiguanid, mempunyai aktivitas antiseptik yang cukup kuat. Obat ini merupakan salah satu antiseptik pada operasi terutamanya banyak digunakan di kedokteran gigi. Obat ini bersifat bakteriostatik untuk kuman Gram-positif maupun Gram-negatif yang resisten. Klorheksidin tetap efektif walaupun ada sabun, nanah, dan darah. Pada penggunaan berulang dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan dermatitis kontak dan fotosensitivitas. Terdapat sebagai emulsi klorheksidin glukuronat 4% untuk penggunaan antiseptik secara umum maupun dalam bidang kedokteran gigi dan mulut.
2. Yodium. Yodium ialah suatu zat yang bersifat bakteriostatik non selektif. Sediaan yang mengandung zat ini ialah yodium tingtur dan lugol. Yodium tingtur berwarna coklat, dapat menyebabkan iritasi, vesikulasi kulit, kadang-kadang kulit dapat mengelupas. Bila terjadi intoksisitas, akan timbul iritasi saluran cerna, kolik, muntah, diare, syok dan kematian. Sifat korosif hilang bila dalam saluran cerna terdapat banyak karbohidrat. Di klinik yodium dipakai untuk desinfeksi kulit pada pembedahan. Sesegera sesudah itu kulit harus dibersihkan dengan alkohol 70%, bila tidak dapat terjadi deskuamasi.
3. Povidon yodium. Povidon yodium ialah suatu iodofor suatu kompleks yodium dengan polivinil pirolidon. Obat ini di klinik digunakan sebagai penganti merkurokrom dan yodium tingtur karena tidak iritatif. Yodium yang banyak digunakan sebagai antiseptik berspektrum luas tersedia sebagi obat topikal seperti shampo, salep, obat kumur, pencuci tangan sebelum operasi yang dapat mengurangi populasi bakteri sampai 85%, efektif untuk satu jam dan populasi kembali normal setelah 8 jam. Warna coklat gelap dan baunnya merupakan sifat obat ini yang kurang menguntungkan.
4. Yudoform. Zat ini bila kontak dengan tubuh melepaskan yodium secara berangsur angsur dan yodium inilah yang diharapkan bersifat bakterisid. Bukti manfaat obat ini tidak ada, obat ini sudah hampir tidak digunakan lagi.
2.3.5 Golongan Peroksidan
Peroksidan ialah kelompok zat yang dapat melepaskan O2. Proses oksidasi ini
menimbulkan sifat bakterisid.
1. Larutan H2O2. Larutan ini dengan kadar 3% yang bersentuhan dengan tubuh, terutama pada jaringan yang terluka atau mukosa akan melepaskan O2 disebabkan adanya enzim katalase dalam sel. H2O2 juga berguna sebagai bahan pencuci luka dan obat kumur.
2. Kalium Permanganat. Kalium permanganat berupa kristal ungu, mudah larut dalam air. Dalam larutan encer merupakan peroksidan. Pengelepasan O2 terjadi bila bersentuhan dengan zat organik. Inaktivasi menyebabkan perubahan warna larutan ungu menjadi biru. Zat ini bekerja sebagai iritan, deodoran, dan astringen. Dalam klini digunakan untuk kompres luka dan segala macam infeksi kulit, sebagai antidotum pada intosikasi bahan-bahan yang mudah teroksidasi, irigasi kandung kemih yang infeksi, dan pencuci perineum pascapersalinan.
3. Kalium Perborat. Zat yang berbentuk kristal putih dan tidak berbau. Dalam keadaan kering stabil. Larutan dalam air, mudah terurai dan melepaskan O2. Dalam klinik dipakai sebagai obat kumur, pada stomatitis, glositis dan ginggivitis. Larutan 2% digunakan untuk berkumur. Setelah itu obat harus dibuang, tidak boleh ditelan.
4. Kalium perklorat. Zat ini juga dipakai sebagai obat kumur, terdapat dalam gargarisma khan, juga tidak boleh ditelan.
2.3.6 Logam berat dan garamnya
1. Sublimat. Zat ini dapat dipakai untuk mensterilkan alat kedokteran dan tangan sebelum operasi. Sublimat menimbulkan iritasi pada jaringan luka dan bersifat bakterisid terhadap kuman yang tidak membentuk spora.
2. Senyawa Hg organik. Contoh obat ini ialah larutan 2% merkurokrom (merbromin). Obat ini sedikit mengiritasi kulit yang luka dan mukosa. Masa kerja dan mula kerja antiseptik ini lama. Intoksikasi terjadi karena ion Hg, sebagai antiseptik kulit obat ini telah digantikan oleh povidon yodium.
3. Garam perak. Larutan encer garam ini dipakai sebagai astringen dan antiseptik. Larutan pekat bersifat korosif dan dapat menimbulkan intoksikasi. Perak nitrit, berbentuk kristal putih, mudah larut dalam air, warna perak nitric akan berubah apabila terkena sinar matahari, karena itu harus disimpan dalam botol inaktinis. Larutan pekat digunakan untuk menghilangkan kutil dan mata ikan.
2.3.7 Zat Warna
Zat warna organik sintetik atau yang disebut coal tar dyes dipakai sebagai antiseptik, kemoterapi terhadap protozoa dan sebagai perangsang penyembuhan luka. Zat warna juga berguna untuk diagnostik. Kegunaan zat warna diketahui sejak ditemukannya efektivitas gentian violet untuk membunuh mikroorganisme Gram-Positif dan akriflavin sebagai tripanosid. Penggolongan zat warna berdasarkan struktur kimia sebagai berikut :
1. Zat warna azo. Biru evans, zat warna ini digunakan untuk menentukan perkiraan volume darah.
2. Zat warna akridin. Senyawa ini memberi warna kuning di sebut flavine. Senyawa yang digunakan sebagai obat kompres.
3. Zat warna fluoresin. Digunakan untuk diagnosis dalam oftalmologi.
4. Zat warna fenolflatoin
5. Zat warna Gentian violet. Gentian violet (kristal violet, metal violet) ialah campuran rosanilin terutama heksametik rosanilin, juga penta dan tetra metal rosanilin. Gentian violet toksik terhadap bakteri Gram-positif dan beberapa jamur.
6. Zat warna biru metilen ialah zat warna pertama yang digunakan dalam dunia kedokteran. Sebelum tahun 1890 senyawa ini digunakan sebagai antiseptic intestinal.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Antiseptik adalah zat zat yang membunuh atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Istilah ini terutama digunakan untuk sediaan yang dipakai pada jaringan hidup.Anseptik yang ideal adalah :
1. Efektifitas germisid tinggi
2. Bersifat letal terhadap mikroorganisme
3. Kerjanya cepat dan tahan lama
4. Spektrum sempit terhadap mikroorganisme yang sensitive
5. Tegangan permukaan yang rendah untuk penggunaan topical
6. Indeks terapi tinggi
7. Tidak memberikan efek sistemik bila diberikan secara topikal dan tidak diadsorbsi.
Mekanisme kerja antiseptik antara lain penginaktifan enzim, denaturasi protein, mencegah permeabilitas membran, interkalasi ke dalam Deoksiribosa Nukleat Acid (DNA) dan pembentukan kelat.
Berdasarkan sifat kimianya, antiseptik digolongkan dalam golongan fenol, alkohol, aldehid asam, halogen, peroksidan dan logam berat dan zat warna.
DAFTAR PUSTAKA
Darmadi. 2008. Infeksi Nosokomial. Jakarta : Salemba Medika.
Isadiartuti, D dan S. Retno. 2005. Uji Efektifitas Sediaan Gel Antiseptik Tangan yang Mengandung Etanol dan Triklosan. Majalah Farmasi Airlangga, 5(3).
Staff pengajar departement farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : EGC
Yunanto, A, E. Hartoyo dan L.Y. Budiarti. 2005. Peran alkohol 70%, povidon iodine 10% dan kasa kering steril dalam pencegahan infeksi pada perawatan tali pusat. Jurnal Sari Pediatri. 7 (2).
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Zat antimikroba adalah senyawa yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Zat antimikroba dapat bersifat membunuh mikroorganisme (microbicidal) atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme (microbiostatic). Antiseptik adalah senyawa kimia yang digunakan untuk menekan pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan tubuh, misalnya kulit. Antiseptik selalu digunakan dalam berbagai kondisi medis baik untuk membersihkan luka terbuka ataupun disaat persiapan operasi di akan diberikan antiseptik terlebih dahulu untuk mencegah bakteri bertumbuh dan masuk ke dalam bagian operasi tersebut.
Antiseptik berbeda dengan antibiotik dan disinfektan, yaitu antibiotik digunakan untuk membunuh mikroorganisme di dalam tubuh, dan disinfektan digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada benda mati. Hal ini disebabkan antiseptik lebih aman diaplikasikan pada jaringan hidup.
1.2 Rumusan Masalah
• Apa yang dimaksud dengan antiseptik?
• Bagaimana kerja dari antiseptik?
• Apa sajakah golongan antiseptik?
1.3 Tujuan
• Untuk mengetahui definisi dari antiseptik
• Untuk mengetahui mekanisme kerja dari antiseptik
• Untuk mengetahui jenis-jenis atau golongan dari antiseptik
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Antiseptik
Secara umum antiseptik adalah desinfektan yang nontoksik karena digunakan untuk kulit, mukosa, atau jaringan hidup lainnya. Sebagai antiseptik dituntut persyaratan :
1. Memiliki spektrum luas, artinya efektif untuk membunuh bakteri, virus, jamur dan sebagainya
2. Tidak meransang kulit maupun mukosa
3. Toksisitan dan daya adsorbsi melalui mukosa dan kulit rendah
4. Efek kerjanya cepat dan bertahan lama
5. Efektifitas kerjanya tidak terpengaruh oleh adanya darah dan nanah.
(Darmadi. 2008)
Antiseptik adalah suatu substansi untuk melawan infeksi atau mencegah pertumbuhan atau kerja mikroorganisme dengan cara menghancurkannya ataupun menghambat pertumbuhannya serta aktifitasnya. Istilah desinfektan dibedakan dari antiseptik dalam hal penggunaanya. Untuk desinfektan biasanya digunakan pada bendabenda atau materi tidak hidup, sedangkan antiseptik digunakan untuk jaringan hidup.
Antiseptik merupakan zat yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme yang hidup di permukaan tubuh. Mekanisme kerja antiseptik ini antara lain merusak lemak pada membran sel bakteri atau dengan cara menghambat salah satu kerja enzim pada bakteri yang berperan dalam biosintesis asam lemak (Isadiartuti & Retno, 2005).
Antiseptik adalah zat zat yang membunuh atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Istilah ini terutama digunakan untuk sediaan yang dipakai pada jaringan hidup. (Staff pengajar departement farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009).
Menurut submer lain antiseptik yang ideal diantaranya :
1. Efektifitas germisid tinggi
2. Bersifat letal terhadap mikroorganisme
3. Kerjanya cepat dan tahan lama
4. Spektrum sempit terhadap mikroorganisme yang sensitive
5. Tegangan permukaan yang rendah untuk penggunaan topical
6. Indeks terapi tinggi
7. Tidak memberikan efek sistemik bila diberikan secara topikal dan tidak diadsorbsi. (Staff pengajar departement farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009)
2.2 Mekanisme Kerja Antiseptik
Mekanisme kerja antiseptik antara lain merusak lemak pada membran sel bakteri atau dengan cara menghambat salah satu kerja enzim pada bakteri yang berperan dalam biosintesis asam lemak (Isadiartuti dan Retno, 2005).
Menurut Siswandono dan Sukardjo mekanisme kerja antiseptik antara lain penginaktifan enzim, denaturasi protein, mencegah permeabilitas membran, interkalasi ke dalam Deoksiribosa Nukleat Acid (DNA) dan pembentukan kelat.
2.2.1 Penginaktifan enzim tertentu
Penginaktifan enzim tertentu adalah mekanisme umum dari senyawa antiseptika, seperti turunan aldehid, etilen oksida. Aldehida dan etilen oksid bekerja dengan mengalkilasi secara langsung gugus nukleofil seperti gugus-gugus amino, karboksil, hidroksil, fenol dan tiol dari protein sel bakteri
2.2.2 Denaturasi Protein
Turunan alkohol, turunan fenol bekerja sebagai antiseptik dengan cara denaturasi dan koagulasi protein sel bakteri. Senyawa alkohol dapat menimbulkan denaturasi protein sel bakteri dan proses tersebut memerlukan air. Hal ini ditunjang oleh fakta bahwa alkohol absolut, yang tidak mengandung air, mempunyai aktivitas antibakteri jauh lebih rendah dibanding alkohol yang mengandung air. Selain itu turunan alkohol juga menghambat sistem fosforilasi dan efeknya terlihat jelas pada mitokondria, yaitu pada hubungan substrat nikotinamid adenine nukleotida (NAD). Turunan fenol berinteraksi dengan sel bakteri melalui proses absorbsi yang melibatkan ikatan hidrogen. Pada kadar rendah terbentuk kompleks protein fenol dengan ikatan yang lemah dan segera mengalami peruraian, diikuti penetrasi fenol ke dalam sel menyebabkan presipitasi serta denaturasi protein. Pada kadar tinggi fenol menyebabkan koagulasi protein dan sel membran mengalami lisis.
2.2.3 Mengubah Permeabilitas
Turunan fenol dapat mengubah permeabilitas membran sel bakteri, sehingga menimbulkan kebocoran konstituen sel yang esensial dan mengakibatkan bakteri mengalami kematian
2.2.4 Interaksi ke dalam DNA
Beberapa zat warna, seperti turunan trifenilmetan dan akridin, bekerja sebagai antibakteri dengan mengikat secara kuat asam nukleat, menghambat sintesis DNA dan menyebabkan perubahan kerangka mutasi pada sintesis protein. Turunan trifenil metan seperti gentian violet adalah kation aktif, dapat berkompetisi dengan ikatan hidrogen membentuk kompleks yang tak terionisasi dengan gugus bermuatan negatif dari konstituen sel, terjadi pemblokan proses biologis yang penting untuk kehidupan bakteri sehingga bakteri mengalami kematian
2.2.5 Pembentukan Kelat
Beberapa turunan fenol seperti heksaklorofen dan oksikuinolin, dapat membentuk kelat dengan ion Fe danCu, kemudian bentuk kelat tersebut dialihkan ke dalam sel bakteri. Kadar yang tinggi dari ion – ion logam didalam sel menyebabkan gangguan fungsi enzim – enzim sehingga mikroorganisme mengalami kematian.
2.3 Jenis-jenis Antiseptik
Berdasarkan sifat kimianya, antiseptik digolongkan dalam golongan fenol, alkohol, aldehid asam, halogen, peroksidan dan logam berat.
2.3.1 Golongan fenol
Yang termasuk ke dalam golongan fenol ialah : fenol, timol, resorsinol dan
heksaklorofen.
1. Fenol. Fenol merupakan zat pembaku daya antiseptik obat lain sehingga daya antiseptik diyatakan dengan koefesien fenol. Obat ini bukan antiseptik yang kuat Banyak obat lain yang mempunyai daya antiseptik lebih kuat. Dalam kadar 0,01 %- 1%, fenol bersifat bakteriostatik. Larutan 1,6% bersifat bakterisid, yang dapat mengadaka koagulasi protein. Ikatan fenol dengan protein mudah lepas, sehinggamfenol dapat mempenetrasi ke dalam kulit utuh. Larutan 1,3% bersifat fungisid, berguna untuk sterilisasi alat kedokteran. Intoksikasi fenol menyebabkan tremor dan eksitasi.
2. Timol. Obat ini mempunyai koefesien fenol 30, bersifat bakterisid, antelmintik dan fungisid, terutama efektif untuk infeksi jamur (aktinomikosis, blastomikosis, kokisdioidomikosis dan kandidiasis). Sediaan timol terdapat dalam bentuk tingtur (larutan dalam alkohol) 1% dan selep 10%.
3. Resorsinol. Sifat obat ini mirip fenol, berefek bakterisid dan fungisid. Di klinik digunakan untuk mengobati infeksi jamur di kulit, eksim, psoriasis dan dermatitis seboroik. Resorsinol bersifat keratolitik dan iritan ringan.
4. Heksaklorofen. Heksaklorofen ialah senyawa bisfenol yang mengandung klor. Heksaklorofen kadar rendah dapat menganggu transport elektron kuman dan menghambat enzim terikat pada membran. Konsentrasi tinggi dapat menyebabkan pecahnya membran kuman. Heksaklorofen lebih aktif terhdadap kuman Gram positif dibandingkan dengan kuman Gram-Negatif, efek bakteriostatiknya lebing tinggi tetapi dibutuhkan waktu kontak yang cukup, hampir tidak efektif untuk spora.
2.3.2 Golongan alcohol
1. Etanol 70% . Berpotensi antiseptik yang optimal. Bila kadar alkohol ditinggikan akan menyebkan prepitasi protein dan tidak efektif sebagai antiseptik, karena spora tidak dimatikan. Alkohol meningkatkan aktivitas antiseptik lain misalnya klorheksidin, yodium, yodofor, heksaklorofen bila diberikan kombinasi.
2. Glikol dipakai untuk membunuh kuman penyebab penyakit yang ditularkan melalui udara (desinfektan Udara). Bakteri ditularkan melalui udara dalam titik-titik air yang halus, uap glikol akan larut dalam titik-titik air dan mematikan bakteri tersebut.
2.3.3 Golongan aldehid
Golongan ini ialah formaldehid. Larutan formalin 1% dapat bersifat bakterisid, tetapi perlu kontak lama. Formaldehid efektif terhadap kuman, jamur, bakteri dan virus, tetapi kerjanya lambat. Kadar 8% digunakan untuk sterilisasi alat-alat kedokteran dan sterilisasi sputum pasien tuberkulosis. Foramlin digunakan untuk pengawatan mayat dan spesimen penelitian. Sifat merusak jaringan formaldehid dapat menimbulkan efek toksik lokal dan menimbulkan reaksi alergi. Kontak berulang dapat menyebabkan dermatitis eksematoid.
2.3.4 Golongan Halogen
1. Klorheksidin. Klorheksidin ialah suatu bisbiguanid, mempunyai aktivitas antiseptik yang cukup kuat. Obat ini merupakan salah satu antiseptik pada operasi terutamanya banyak digunakan di kedokteran gigi. Obat ini bersifat bakteriostatik untuk kuman Gram-positif maupun Gram-negatif yang resisten. Klorheksidin tetap efektif walaupun ada sabun, nanah, dan darah. Pada penggunaan berulang dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan dermatitis kontak dan fotosensitivitas. Terdapat sebagai emulsi klorheksidin glukuronat 4% untuk penggunaan antiseptik secara umum maupun dalam bidang kedokteran gigi dan mulut.
2. Yodium. Yodium ialah suatu zat yang bersifat bakteriostatik non selektif. Sediaan yang mengandung zat ini ialah yodium tingtur dan lugol. Yodium tingtur berwarna coklat, dapat menyebabkan iritasi, vesikulasi kulit, kadang-kadang kulit dapat mengelupas. Bila terjadi intoksisitas, akan timbul iritasi saluran cerna, kolik, muntah, diare, syok dan kematian. Sifat korosif hilang bila dalam saluran cerna terdapat banyak karbohidrat. Di klinik yodium dipakai untuk desinfeksi kulit pada pembedahan. Sesegera sesudah itu kulit harus dibersihkan dengan alkohol 70%, bila tidak dapat terjadi deskuamasi.
3. Povidon yodium. Povidon yodium ialah suatu iodofor suatu kompleks yodium dengan polivinil pirolidon. Obat ini di klinik digunakan sebagai penganti merkurokrom dan yodium tingtur karena tidak iritatif. Yodium yang banyak digunakan sebagai antiseptik berspektrum luas tersedia sebagi obat topikal seperti shampo, salep, obat kumur, pencuci tangan sebelum operasi yang dapat mengurangi populasi bakteri sampai 85%, efektif untuk satu jam dan populasi kembali normal setelah 8 jam. Warna coklat gelap dan baunnya merupakan sifat obat ini yang kurang menguntungkan.
4. Yudoform. Zat ini bila kontak dengan tubuh melepaskan yodium secara berangsur angsur dan yodium inilah yang diharapkan bersifat bakterisid. Bukti manfaat obat ini tidak ada, obat ini sudah hampir tidak digunakan lagi.
2.3.5 Golongan Peroksidan
Peroksidan ialah kelompok zat yang dapat melepaskan O2. Proses oksidasi ini
menimbulkan sifat bakterisid.
1. Larutan H2O2. Larutan ini dengan kadar 3% yang bersentuhan dengan tubuh, terutama pada jaringan yang terluka atau mukosa akan melepaskan O2 disebabkan adanya enzim katalase dalam sel. H2O2 juga berguna sebagai bahan pencuci luka dan obat kumur.
2. Kalium Permanganat. Kalium permanganat berupa kristal ungu, mudah larut dalam air. Dalam larutan encer merupakan peroksidan. Pengelepasan O2 terjadi bila bersentuhan dengan zat organik. Inaktivasi menyebabkan perubahan warna larutan ungu menjadi biru. Zat ini bekerja sebagai iritan, deodoran, dan astringen. Dalam klini digunakan untuk kompres luka dan segala macam infeksi kulit, sebagai antidotum pada intosikasi bahan-bahan yang mudah teroksidasi, irigasi kandung kemih yang infeksi, dan pencuci perineum pascapersalinan.
3. Kalium Perborat. Zat yang berbentuk kristal putih dan tidak berbau. Dalam keadaan kering stabil. Larutan dalam air, mudah terurai dan melepaskan O2. Dalam klinik dipakai sebagai obat kumur, pada stomatitis, glositis dan ginggivitis. Larutan 2% digunakan untuk berkumur. Setelah itu obat harus dibuang, tidak boleh ditelan.
4. Kalium perklorat. Zat ini juga dipakai sebagai obat kumur, terdapat dalam gargarisma khan, juga tidak boleh ditelan.
2.3.6 Logam berat dan garamnya
1. Sublimat. Zat ini dapat dipakai untuk mensterilkan alat kedokteran dan tangan sebelum operasi. Sublimat menimbulkan iritasi pada jaringan luka dan bersifat bakterisid terhadap kuman yang tidak membentuk spora.
2. Senyawa Hg organik. Contoh obat ini ialah larutan 2% merkurokrom (merbromin). Obat ini sedikit mengiritasi kulit yang luka dan mukosa. Masa kerja dan mula kerja antiseptik ini lama. Intoksikasi terjadi karena ion Hg, sebagai antiseptik kulit obat ini telah digantikan oleh povidon yodium.
3. Garam perak. Larutan encer garam ini dipakai sebagai astringen dan antiseptik. Larutan pekat bersifat korosif dan dapat menimbulkan intoksikasi. Perak nitrit, berbentuk kristal putih, mudah larut dalam air, warna perak nitric akan berubah apabila terkena sinar matahari, karena itu harus disimpan dalam botol inaktinis. Larutan pekat digunakan untuk menghilangkan kutil dan mata ikan.
2.3.7 Zat Warna
Zat warna organik sintetik atau yang disebut coal tar dyes dipakai sebagai antiseptik, kemoterapi terhadap protozoa dan sebagai perangsang penyembuhan luka. Zat warna juga berguna untuk diagnostik. Kegunaan zat warna diketahui sejak ditemukannya efektivitas gentian violet untuk membunuh mikroorganisme Gram-Positif dan akriflavin sebagai tripanosid. Penggolongan zat warna berdasarkan struktur kimia sebagai berikut :
1. Zat warna azo. Biru evans, zat warna ini digunakan untuk menentukan perkiraan volume darah.
2. Zat warna akridin. Senyawa ini memberi warna kuning di sebut flavine. Senyawa yang digunakan sebagai obat kompres.
3. Zat warna fluoresin. Digunakan untuk diagnosis dalam oftalmologi.
4. Zat warna fenolflatoin
5. Zat warna Gentian violet. Gentian violet (kristal violet, metal violet) ialah campuran rosanilin terutama heksametik rosanilin, juga penta dan tetra metal rosanilin. Gentian violet toksik terhadap bakteri Gram-positif dan beberapa jamur.
6. Zat warna biru metilen ialah zat warna pertama yang digunakan dalam dunia kedokteran. Sebelum tahun 1890 senyawa ini digunakan sebagai antiseptic intestinal.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Antiseptik adalah zat zat yang membunuh atau mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Istilah ini terutama digunakan untuk sediaan yang dipakai pada jaringan hidup.Anseptik yang ideal adalah :
1. Efektifitas germisid tinggi
2. Bersifat letal terhadap mikroorganisme
3. Kerjanya cepat dan tahan lama
4. Spektrum sempit terhadap mikroorganisme yang sensitive
5. Tegangan permukaan yang rendah untuk penggunaan topical
6. Indeks terapi tinggi
7. Tidak memberikan efek sistemik bila diberikan secara topikal dan tidak diadsorbsi.
Mekanisme kerja antiseptik antara lain penginaktifan enzim, denaturasi protein, mencegah permeabilitas membran, interkalasi ke dalam Deoksiribosa Nukleat Acid (DNA) dan pembentukan kelat.
Berdasarkan sifat kimianya, antiseptik digolongkan dalam golongan fenol, alkohol, aldehid asam, halogen, peroksidan dan logam berat dan zat warna.
DAFTAR PUSTAKA
Darmadi. 2008. Infeksi Nosokomial. Jakarta : Salemba Medika.
Isadiartuti, D dan S. Retno. 2005. Uji Efektifitas Sediaan Gel Antiseptik Tangan yang Mengandung Etanol dan Triklosan. Majalah Farmasi Airlangga, 5(3).
Staff pengajar departement farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : EGC
Yunanto, A, E. Hartoyo dan L.Y. Budiarti. 2005. Peran alkohol 70%, povidon iodine 10% dan kasa kering steril dalam pencegahan infeksi pada perawatan tali pusat. Jurnal Sari Pediatri. 7 (2).
Komentar
Posting Komentar