Makalah zoonosis Camphilobacter dan Clostridial Infection



Campylobacteriosis dan Clostridial Infection

Oleh;
Trisna Putri (1602101010132)


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2018




BAB I
PENDAHULAN
1.1 Latar Belakang
Berbagai penyakit yang muncul di masyarakat saat ini banyak berasal dari hewan. Hal ini menjadi menjadi sangat penting karena penyakit dari hewan tersebut sewaktu – waktu dapat mewabah hingga jangkauannya luas. Sehingga diperlukanlah langkah – langkah terpadu untuk mencegah dan menanggulanginya. Mewabahnya penyakit asal hewan terkait dengan populasi manusia, lingkungan, dan agen penyakit itu sendiri yang dapat berimplikasi pada kemunculan suatu penyakit zoonosis. PenyakitzoonosismenurutBadanKesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) adalah suatu penyakit yang secara alamiah dapat menular di antara hewan vertebrata dan manusia.
Penyakit pada hewan dapat ditularkan langsung dan tidak langsung atau melaui produk hewan seperti daging, susu, dan telur termasuk penyakit yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi makanan (foodborne disease) dan penyakit yang disebabklan masuknya agen pathogen ke dalam saluran pencernaan (food infection) serta food intoxination. Keadaan ini akan menyulitkan usaha untuk memutus mata rantai penyebaranpenyakit termasuk zoonosis. Pada makalah ini kelompok kami akan memaparkan tentang CampylobacteriosisdanClostridial Infection.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara penularan Campylobacteriosis dan Clostridial Infection
2. Bagaimana pola penyakit CampylobacteriosisdanClostridial Infection
3. Bagaimana tindakan pengendalian penyakit CampylobacteriosisdanClostridial Infection



CAMPYLOBACTERIOSIS
Campylobacteriosis adalah infeksi oleh bakteri Campylobacter, jenis yang paling sering menginfeksi adalah C. jejuni. Campylobacteriosis termasuk dalam infeksi bakteri yang paling umum menyerang manusia, khususnya melalui makanan yang terkontaminasi bakteri. Umumnya menyebabkan peradangan pada perut, kadang-kadang berdarah, sindrom diare /disentri, kebanyakan menyebabkan kram, demam dan rasa sakit.Penyakit menular ini telah lama tersebar di seluruh dunia, namun belum ada laporan tentang adanya kasus penyakit ini di Indonesia. Sebelumnya penyakit ini dikenal dengan nama vibriosis, menyerang sapi perah dan menyebabkan adanya infertilitas disertai dengan abortus pada sapi bunting. Sapi perah dilaporkan lebih rentan terhadap penyakit ini dan lebih banyak kasus di lapangan daripada sapi potong. Sedangkan pada ternak domba kasus di lapangan lebih jarang terjadi.
A. PATOGENESIS DAN PATOLOGI
Infeksi kuman C. jejuni berasal dari makanan (misalnya susu yang tidak dipasteurisasi), minuman (air terkontaminasi), kontak dengan hewan yang terinfeksi (unggas, anjing, kucing, domba dan babi), feses hewan atau melalui makanan yang terkontaminasi seperti daging ayam yang belum dimasak dengan baik. Kadang-kadang infeksi dapat menyebar melalui kontak langsung orang per orang, hewan yang terinfeksi atau ekskretanya serta aktivitas seksual anal-genital-oral sebagai transmisi.
Campylobacter spesies sensitif terhadap asam klorida dalam lambung, dan pengobatan antasida dapat mengurangi jumlah inokulum yang diperlukan untuk menyebabkan penyakit.
C. jejuni berkembang biak di usus kecil, menginvasi epitel, menyebabkan radang yang mengakibatkan munculnya sel darah merah dan darah putih pada tinja. Kadang-kadang C.jejuni masuk ke dalam aliran darah sehingga timbul gambaran klinik demam enterik. Invasi jaringan yang terlokalisasi serta aktivitas toksin menyebabkan timbulnya enteritis (prevalensinya lebih tinggi). C.jejuni dapat menyebabkan diare melalui invasi kedalam usus halus dan usus besar.Ada 2 tipe toksin yang dihasilkan, yaitu cytotoxin dan heat-labile enterotoxin. Perubahan histopatologi yang terjadi mirip dengan proses ulcerative colitis. C. jejuni dimana pada tahap awalnya adalah kemotaksis dan motilitas kuman menuju sel epitel usus, diikuti dengan adhesi, invasi dan berkembang di dalam vakuola sel usus. Di dalam sel usus kuman memproduksi Cytolethal Distending Toxin (CDT) yang menyebabkan kerusakan pada sel usus. Kerusakan sel usus tersebut menyebabkan peradangan pada usus (enteritis) dengan gejala klinis diare cair dan kadang berdarah.

B. PROSES PENULARAN Campylobacter jejuni KE MANUSIA
Kuman C. jejuni merupakan penyebab utama enteritis pada manusia dan juga menyebabkan diare pada sapi, anjing, kucing dan primata non-manusia. Spesies ini juga sebagai penyebab mastitis pada sapi dan aborsi di domba.Pada ayam, kalkun, merpati, gagak dan burung camar dan liar burung, kuman ini merupakan bagian dari flora ususnormal.
Kejadian infeksi Campylobacter berhubungan dengan materi berupa susu, daging ayam, air dan air tanah. Infeksi pada C. jejuni masuk melalui mulut bersama makanan (misalnya susu yang tidak dipasteurisasi), minuman (air terkontaminasi), kontak dengan hewan yang terinfeksi (unggas, anjing, kucing, domba dan babi) atau dengan feses hewan melalui makan yang terkontaminasi seperti daging ayam yang belum dimasak dengan baik. Kadang-kadang infeksi dapat menyebar melalui kontak langsung dari manusia ke manusia atau hewan yang terinfeksi atau ekskretanya serta aktivitas seksual anal-genital-oral sebagai transmisi
Campylobacter biasanya ada bersamaan dengan mikroorganisme pathogen lainnya seperti E.coli, Salmonella dan Cryptospodium.Penyakit ini sering terjadi pada tempat-tempat umum seperti sekolah, pusat-pusat penitipan anak, rumah perawatan, tempat pelatihan dan rumah sakit.Hal tersebut dimungkinkan terjadi karena sanitasi yang kurang baik dan adanya kontaminasi silang saat menyiapkan makanan. Bahan makanan yang sering menyebabakan infeksi Campylobacter antara lain daging ayam, kalkun, sapi, babi, ikan dan susu. Makanan lainnya yang sering terkontaminasi adalah seafood mentah seperti tiram dan jamur.
Campylobacter peka terhadap tekanan oksigen, temperatur dan pengeringan.Transmisi melalui vektor sangatlah penting terhadap penyebaran pathogen ini. Yang menjadi vektor ini antara lain hewan liar dan hewan domestik. Burung liar yang menjadi vektor antara lain merpati, burung camar dan gagak. Burung liar ini juga dapat menyebarkan pathogen ini ke air danau sehingga mengkontaminasi air disekitarnya sehingga air menjadi sumber dari C. jejuni.
Survey menunjukkan 20% – 100% daging ayam retail tercemar C. jejuni.Hal ini tidak mengejutkan karena pada ayam yang sehat didalam ususnya mengandung kuman ini sebagai flora yang biasa berada pada usus ayam. Pada transmisi C. jejuni pada daing ayam, produk yang paling sering menyebabkan Campylobacteriosis adalah pemasakan daging yang tidak masak, organ ayam (hati, jantung dan gizzard), bagian caudal yaitu kaki dan sayap ayam. C. jejuni dapat bertahan dipermukaan daging segar selama lebih dari enam hari.

C. CAMPYLOBACTERIOSIS PADA MANUSIA
Angka kejadian campylobacteriosis pada pasien penderita diare hampir sama dengan kejadian salmonellosisatau shigellosis. Hasil penelitian di negara Amerika menunjukkan angka kejadian salmonelosis berkisar 300-1500 kasus/100.000 penduduk, infeksi Escherichia coli 30 kasus/tahun (SPARLING, 1998) dan campylobacteriosis1/1000 orang.Laporan dari negara Inggris dan Wales, lebih dari 1% populasi terinfeksi setiap tahunnya dengan kerugian ekonomi mencapai £ 12 million. Sebaliknya di Indonesia hanya sedikit informasi mengenai infeksi C. jejuni pada manusia, salah satunya adalah yang dilaporkan oleh BALITVET, Bogor pada tahun 1984 yaitu tentang kasus keracunan susu C. jejuni di Jawa Barat.
Masa inkubasi campylobacteriosis pada manusia umumnya 2 – 4 hari ketika kuman mengalami multiplikasi dalam usus dan mencapai jumlah 106 – 109 per gram feses.Untuk terjadinya infeksi hanya diperlukan sekitar 800 kuman C. jejuni dengan gejala klinis berupa demam, diare, muntah dan sakit perut. C. jejuni menghasilkan enterotoksin yang mirip dengan penyakit kolera dan toksin Escherichia coli.
Banyak kejadian Campylobacteriosis pada manusia bersifat sporadik.Kejadian dari penyakit ini memiliki karakteristik epidemiologik yang berbeda dari infeksi sproradik.Penyakit umumnya terjadi pada musim semi dan gugur. Konsumsi susu mentah sebagai sumber infeksi pada 30 dari 80 kejadian luar biasa Campylobacteriosis pada manusia, seperti yang dilaporkan oleh CDC antara tahun 1973 dan 1992. Terjadinya penyakit ini disebabkan oleh mengkonsumsi susu mentah pada saat kunjungan anak sekolah ke peternakan selama musim sedang. Sebaliknya, puncak Campylobacter sporadic terjadi selama musim panas.
Faktor resiko lainnya yang proporsinya lebih kecil dari penyakit sproradik diantaranya minum air yang tidak dimasak dengan baik, perjalanan ke luar negeri, mengkonsumsi babi panggang atau sosis, minum susu mentah atau susu botol, kontak dengan anjing atau kucing, khususnya binatang kesayangan anak-anak atau binatang kesayangan yang terkena diare. Penyebaran dari manusia ke manusia tidak umum terjadi.Pangan asal hewan merupakan faktor penting dalam penyebaran Campylobacter jejuni terhadap manusia.
Di Amerika Serikat Campylobacter umumnya menyerang pada bayi, kurang lebih 14 per 100.000 per tahun terjangkit penyakit ini. Dengan samakin bertambahnya umur (anak-anak), maka kejadian semakin menurun yaitu 4 per 100.000 orang per tahun. Kejadian pada orang dewasa meningkat lagi yaitu sebesar 8 per 100.000 orang pertahun. Diantara umur remaja dan dewasa, diperkirakan < 3 per 100.000 orang per tahun. Setiap orang ada kecenderungan dapat terinfeksi kuman C. jejuni, tetapi anak di bawah umur 5 tahun dan orang dewasa (15-29 tahun) merupakan yang paling rentan terinfeksi kuman ini. Umumnya orang tidak menyadari bahwa penyakit sakit perut yang dialami merupakan penyakit yang disebabkan oleh apa yang mereka makan. Biasanya mikroba dalam makanan seperti daging atau telur yang dimasak kurang matang, penanganan produk yang salah, atau tercemarnya produk oleh kotoran hewan.Beberapa penderita bisa sembuh tanpa pergi ke dokter, tetapi beberapa yang lainnya tidak sembuh.Satu dari 1000 orang yang diidentifikasi terinfeksi kuman Campylobacter jejuni Guillain Barre, suatu penyakit kronis yang secara perlahan menimbulkan kelumpuhan badan dari kaki ke atas.

D. CAMPYLOBACTERIOSIS PADA TERNAK

Penularan dapat terjadi melalui kontak pada perkawinan alami dan juga melalui inseminasi buatan. Penularan penyakit lewat inseminasi buatan dapat terjadi dikarenakan adanya kontaminasi bakteri campylobacter pada air mani yang digunakan inseminasi. Setelah bakteri masuk pada hewan target, maka bakteri akan berkembang dengan cepat dalam vagina sapi yang tertular. Selanjutnya hal ini dapat juga menjadi sarana penularan terhadap pejantan yang mengawini betina yang tertular bakteri tersebut.
Selain penularan lewat kawin alami, penularan bakteri campylobacter juga dapat terjadi melalui kotoran, rumput kering maupun melalui alat-alat bekas yang dipakai pada kandang.

E. TINDAK PENGENDALIAN PENYAKIT
Campylobacter jejuni dapat dicegah dan dikendalikan, dengan mengkonsumsi makanan atau bahan pangan segar daripada makanan atau bahan pangan yang telah diawetkan atau dengan mengkonsumsi makanan yang telah diproses dekontaminasi yang terkontrol dengan baik seperti pasteurisasi, sterilisasi dan direbus, contoh makanan yang aman yaitu susu yang telah dipasteurisasi, roti, tepung, jam, madu, pikel, dan manisan buah. Pencegahan yang lain yaitu dengan menjaga kebersihan diri (mencuci tangan dengan sabun, khususnya selama mengolah makanan.) dan kebersihan lingkungan.
Menurut Bill Marler, langkah yang paling penting dan dapat diandalkan untuk mencegah infeksi Campylobacter adalah memasak semua produk unggas dengan benar.
1. Pastikan bahwa bagian paling tebal dari burung (pusat dada) mencapai 840C atau lebih tinggi. Disarankan bahwa suhu mencapai 690C setidaknya untuk bahan pengisi dan 740C untuk produk daging ayam giling, sedangkan untuk paha dan sayap dimasak hingga lemaknya keluar.
2. Pertimbangkan untuk menggunakan makanan iradiasi dalam dosis yang disetujui telah ditunjukkan untuk menghancurkan sedikitnya 99,9% dari patogen bawaan makanan yang umum termasuk Campylobacter, yang berhubungan dengan daging, unggas, dan kontaminasi sekunder produk segar.
3. Pastikan bahwa makanan lain seperti buah dan sayur tidak pernah kontak dengan pisau untuk memotong daging atau unggas atau peralatan yang digunakan selama pemotongan.
4. Jangan meninggalkan makanan di luar ruangan dengan kondisi terbuka selama lebih dari 2 jam.
5. Hindari produk susu mentah dan air tanah tanpa perlakuan (klorinasi atau dimasak)
6. Cuci buah dan sayuran dengan benar terutama jika dimakan mentah. Jika memungkinkan sayurn dan buah dikupas terlebih dahulu.
7. Cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air, terutama pada ujung jari dan lipatan kuku dan dikeringkan dengan kertas sekali pakai setelah kontak dengan hewan peliharaan, terutama anak-anak anjing, atau hewan ternak.

Selain dengan memperhatikan kebersihan pangan, dewasa ini telah dikembangkan beberapa teknik untuk mencegah terjadinya infeksi Campylobacter.Teknik-teknik ini adalah teknik competitive exclusion (CE) dan teknik iradiasi.
1. Teknik Competitive Exclusion (CE)
Pada tahun 1973 Nurmi dan Rantala telah memperkenalkan konsep Competitive Exclusion (CE) untuk mengurangi infeksi Salmonella.Flora intestin dari ayam dewasa dimasukkan dalam burung muda sebagai suspense fecal dropping atau sebagau subkultur anaerob.Diyakini bahwa pertumbuhan anaerob dari kuman CE dapat mengurangi Salmonella. Kondisi yang sama juga diharapkan dapat mengurangi C. jejuni. Kendala yang dihadapi adalah kemungkinan adanya jasad pathogen bagi manusia atau burung karena jasad yang ada tidak di identifikasi terlebih dahulu dan tidak dapat diterapkan disemua negara karena jasad yang ada belum tentu sama.
Guna untuk meningkatkan efektivitas CE dapat dilakukan dengan cara mengetahui jasad yang ada dan digunakan jasad yang mampu menghasilkan metabolic antagonistic terhadap C. jejuni sehingga populasinya dapat ditekan atau dilakukan dengan diet karbohidrat.
2. Teknik Iradiasi
Iradiasi gamma telah digunakan sebagai metode pengawetan bahan pangan dibeberapa negara seperti Belgia, Perancis, Jepang dan Belanda.Di Indonesia teknik ini baru digunakan dalam skala laboratorium. Proses dilakukan dengan penyinaran pangan menggunakan kobalt radioisotop (60Co). Iradiasi akan mempengaruhi fungsi metabolism dan fragmentasi DNA yang dapat mengakibatkan kematian sel mikroba, sehingga memperbaiki kualitas mikrobiologi pangan dengan mengurangi jumlah jasad perusak dan pathogen. Berbeda dengan inaktivasi termal, iradiasi pada dosis rendah tidak berpengaruh terhadap sifat sensoris pangan.
Penggunaan iradiasi pada dosis 1,0 Kg dapat mengontrol Trichinella spiralis pada daging babi dam dosis 3,0 Kg dapat mengeliminasi Salmonella pada unggas. Iradiasi juga dapat mengontrol jasad-jasad pathogen pada manusia seperti Salmonella, C. jejuni, E. coli , Listeria monocytogenes dan dalam dosis yang lebih tinggi terhadap Clostridium botulinum pada unggas.
Beberapa faktor yang mempengaruhi resistensi mikrobia terhadap inaktivasi dengan radiasi adalah komposisi kimia dan fisik bahan, suhu selama iradiasi, aktivasi air dan kondisi sel itu sendiri. Efektivitas dosis iradiasi gamma untuk inaktivasi kuman patogen dipengaruhi oleh kadar protein, lemak dan kandungan air. Pada lingkungan cair pengaruh iradiasi pada kematian meningkat karena radikal bebas yang dihasilkan lebih banyak.Protein dan karbohidrat mempunyai pengaruh melindungi sebagai senyawa yang berkompetisi dengan kuman untuk berinteraksi dengan radikal bebas yang dihasilakn selama hidroisi air.
Resistensi C. jejuni terhadap iradiasi tidak dipengaruhi oleh umur jasad dan fase stasioner dicapai setelah 16 sampai 20 jam. Nilai D10 (kGy) adalah 0,23 pada daging sapi rendah lemak yang disimpan pada kondisi beku dan 0,175 jika disimpan di kulkas. Untuk kadar lemak yang tinggi jika disimpan pada kondisi beku makanan nilai D10 adalah 0,207 dan 0, 199 jika disimpan di kulkas. Hasil uji juga menunjukkan bahawa sensivitas C. jejuni lebih besar daripada E.coli O157;H7 dan Salmonella.


























CLOSTRIDIAL INFECTION
Clostridium merupakan bakteri gram positif, berbentuk batang, semua spesies mempunyai endospore yang berperan penting dalam metabolisme fermentatif bakteri ini. Bakteri Clostridium tidak akan tumbuh dalam kondisi aerobic dan sel vegetatifnya akan mati apabila terpapar O2 namun sporanya akan bertahan dalam jangka waktu panjang di udara.
Bakteri ini hidup dalam lingkungan anaerobic, seperti tanah, sedimen di perairan dan intestinum hewan. Bakteri ini dapat memfermentasi berbagai komponen organik dengan produk akhir seperti asam butyric, asam asetat, butanol, aseton serta mneghasilkan CO2 dan H2 dalam jumlah besar selama memfermentasi gula.
Proses fermentasi asam amino dan asam lemak akan menghasilkan bau busuk. Clostridium juga menghasilkan enzim ekstraselluler untuk menghancurkan molekul biologis seperti protein, lipid, collagen, cellulose serta komponen biologis lain yang terdapat di lingkungan. Bakteri Clostridium memiliki peranan penting dalam biodegradasi dan siklus karbon. Beberapa species Clostridium bersifat pathogen seperti Clostridium perfringens, C. difficile, C. tetani and C. botulinum (Todar, 2012).
Beberapa spesies clostridium yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia :
Clostridium botulinum
Bakteri ini dapat memproduksi racun botulinum pada makanan atau luka yang dapat menyebabkan botulismus. Spora C. botulinumyang terdapat pada madu dapat menyebabkan botulismus pada bayi dan anak anak. Botulismus pada bayi menyebabkan blockade otot motoric dan fungsi autonomy. Penyakit ini pertama kali terjadi akhir tahun 1970 di USA. Sejak saat itu sudah lebih dari 1000 kasus yang sama telah dilaporkan oleh Center for Disease Control and Prevention (CDC). Penelitian menunjukkan adanya toksin dan spora Clostridium botulinum pada madu yang beredar di USA, sehingga CDC merekomendasikan agar tidak memberikan madu pada anak berusia dibawah 12 bulan (Maria, 2002).

Clostridium difficile
Clostridium difficile menyebabkan Antibiotic Assosiated Diarrhea (AAD) dan kondisi serius lainnyapada intestinum seperti colitis dan pseudomembran colitis pada manusia. Kondisi ini terjadi karena pertumbuhan berlebih dari bakteri pada colon, akibat pertumbuhan flora normal colon terhambat oleh antimicrobial terapi. Manusia sehat tidak akan terinfeksi Clostridium difficile . Faktor predisposisi infeksi bakteri ini diantaranya penggunaan antibiotic dalam jangka waktu yang panjang, operasi gastrointestinal, respon immune yang sangat menurun. C. difficile memiliki dua toksin : Toksin A atau enterotoksin menyebabkan akumulasi cairan pada intestinum. Toksin B merupakan toksin cytophatic yang bersifat lethal
Clostridium perfingens
Bakteri ini merupakan penyebab utama dari keracunan makanan dan gas gangrene pada manusia. Bakteri ini juga dapat menyebabkan enteroteksemia yang dikenal dengan penyakit karena terlalu banyak makan atau bulir ginjal pada sapi dan domba. C. perfingens bermanfaat sebagai salah satu komponen pengembang roti yang lazim digunakan saat ini. Perfingen berarti terbagi menjadi bagian bagian kecil. C. perfingen sering ditemukan pada daging dan ayam, kontraksi abdominal dan diare terjadi 8-16 jam setelah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi . perfingen. Spora bakteri ini tahan terhadap panas dan dingin. Bentuk vegetatif akan terjadi saat suhu berkisar antara 16-52o C. Bakteri akan menghasilakn enterotoksin yang menyebabkan diare dan kontraksi abdominal. Untuk menghindari infeksi, makanan harus dimakan dalam kondisi panas atau dipanaskan dengan suhu diatas 74oC (Todar, 2012).
Gas gangrene umumnya terjadi pada luka atau bekas operasi. Pasien yang menderita penyakit ini umumnya juga menderita penyakit pada pembuluh darah seperti atherosclerosis, diabetes atau kanker colon. Clostridium perfingens memproduksi banyak toksin, toksin alpha, beta, epsilon dan iota, empat toksin yang dapat menyebabkan kematian. Toksin ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan, sel darah dan pembuluh darah. Gejala klinik gas gangrene yang menciri pada penderita berupa demam tinggi, nanah berwarna kecoklatan, adanya gelembung gas dibawah kulit, kulit kehilangan warnanya, dan tercium bau busuk (Todar, 2012).
Clostridium tetani
Infeksi terjadi akibat kontaminasi luka oleh C. tetani. Kondisi anaerobic pada jaringan luka merupakan kondisi yang sempurna untuk C. tetani melakukan replikasi dan mengeluarkan eksotoksin. Toksin spasmusgenic, tetanospasmin menghambat neuron dan memblokade pengeluaran neurotransmitters, glycine dan asam gamma aminobutyric. Tetanus ditandai dengan spasmus otot disekeliling luka, sakit pada otot leher dan rahang. Penderita tidak mengalami demam, namun berkeringat dalam jumlah banyak dan mengalami kejang serta kekakuan otot (Wells, 1996).

Kontaminasi C. difficile pada makanan
1. difficile bakteri yang bermanfaat sekaligus pathogen pada hewan domestic dan pakan hewan, dan belum ada penelitian yang membandingkan isolat C. difficile pada hewan dengan C. difficile yang menginfeksi manusia. Peneliti menemukan tidaka ada hubungan antara C. difficile pada anjing dan kucing dengan
2. difficile pada manusia. Toxinotype (TOX)V/PCR ribotype 078/PGFGE tipe NAP7 atau NAP8/REA tipe BK merupakan strain yang dominan terdapat pada sapi dan babi di Eropa dan USA, juga merupakan pathogen pada manusia. C. difficile strain lain yang pathogen terhadap manusia ribotipr 017 dan 066 ternyata sudah pernah dilakukan isolasi dari hewan (Gould,2010).
Pada tahun 2005, dilaporkan adanya kontaminasi C. difficile sebanyak 20% dari sejumlah sampel daging siap saji, termasuk 21% dari daging sapi, dan 14% dari daging sapi muda. Hasil isolasi menunjukkkan C. difficile yang mengkontaminasi daging ini bersifat toksigenic dan hampir seluruhnya sama dengan strain yang menginfeksi manusia. C. difficile diisolasi dari 42% sampel daging sapi, babi dan kalkun yang diperoleh dari Tucson, Arizona selama 3 bulan. Produk yang dijadikan sampel merupakan produk yang diperjualbelikan secara nasional. C. difficile ditemukan tidak hanya pada produk daging setengah matang namun juga pada produk daging mentah (Gould, 2010).
Patogenesitas
Clostridum difficile menyebar melalui ingesti dari spora yang menyebar diantara pasien melalui perawat atau lingkungan. Spora resisten dalam kondisi asam di perut dan berkembang menjadi bentuk vegetatifnya di usus kecil. Gangguan pertumbuhan flora normal usus akibat penggunaan antimikrobia dalam jangka waktu lama, memungkinkan C. difficile berproliferasi dan menunjukkan gejala klinik berupa diare , colitis sampai kematian. Virulensi C. difficile disebabkan 2 toksin yang dimiliki yaitu t oksin A dan toksin B, dikode oleh gen tcdA dan tcdB. Toksin C pada C. difficile bersifat tidak pathogen. Terapi antimikrobia dengan toksin merupakan hal penting dalam perkembangan CDI (Lessa, 2012).
Beberapa hal yang mempengaruhi patogenesis Clostridium difficile :
1. Toksin A dan toksin B yang diproduksi oleh Clostridium difficile
2. Pemberian antibiotic untuk penyakit gastrointestinal yang menghambat pertumbuhan flora normal usus.
3. Produksi proteolytic dan hydrolytic enzim yang diproduksi fimbria dan fllagela,
4. Khemotaksis dan adhesi pada reseptor usus
5. Produksi kapsul
Kelima factor inilah yang memiliki peranan penting dalam pertumbuhan koloni C. difficile dan meyebabkan kerusakan jaringan pada usus (Boriello, 1998).
Adhesi
Adhesi jaringan merupakan factor virulensi dari banyak mikroorganisme pathogen. Indikasi pertama yang menunjukkkan C. difficilemengadhesi jaringan usus manusia ditemukan pada tahun 1979. Adhesi terjadi pada bagian terminal ileum dan sekum, yang dikenal dengan istilah ileocaecitis. Toksin A berperan penting dalam perlekatan bakteri ke dinding usus. Beberapa hal lain yang mendukung perlekatan bakteri di dinding usus diantaranya fimbria bipolar . beberapa strain C. difficile bersifat motil dan berflagella. Physiochemical yang dimiliki mikroorganisme ini juga berkontribusi dalam adhesi terhadap dinding usus. Permukaan sel C. difficile bersifat hydrophobic moderat (Boriello, 1998).
Kemotaksis
Kemampuan bakteri bergerak dari lumen ke bagian mucus usus menyebabkan proteolysis pada dinding usus. Kemotaksis terjadi diiringi dengan kematian, Tingkat keparahan dari kemotaksis menandai derajat patogenesitas dari strain bakteri (Boriello, 1998).
Kapsul
Kapsula yang dimiliki C. difficile bersifat anti fagositosis, yang mencegah bakteri di fagosit di permukaan sel. Kapsula C. difficiletersusun atas polysakarida. Akumulasi polymorphonuclear sel pada jaringan usus disebabkan karena toksin A yang merusak jaringan usus (Boriello, 1998).
Enzim hydrolitik
Enzim hyaluronidase adalah salah satu enzim hydrolitik yang diproduksi C. difficile dalam kondisi anaerob pada jaringan usus manusia yang terinfeksi bakteri ini. (Boriello, 1998).
Toksin
Clostridium difficile memiliki toksin A dan toksin B. Perbedaan terbesar dari toksin A dan toksin B adalah toksin A menyebabkan akumulasi cairan pada hewan coba, sedangkan toksin B tidak. Toksin B merupakan penyebab utama enterocolitis pada hewan coba, sedangkan toksin A diduga memiliki peranan penting dalam pembentukan lesi intestinal dan diare (Boriello, 1998).
Data terakhir yang diterima dari 28 rumah sakit di Amerika selatan, menunjukkan infeksi C difficile menjadi masalah kesehatan utama. Hasil pengumpulan data menunjukkan diagnosis terhadap CDI mengalami kenaikan dari 3.82% per 1000 orang pada tahun 2000 menjadi 8,75% per 1000 orang pada tahun 2008, yang terjadi pada usia ≥ 65tahun.
Kemampuan C. difficile membentuk spora merupakan kunci utama dari kemampuannya bertaha dalam tubuh pasien dan lingkungan dalam jangka waktu lama. C. difficile menginfeksi melalui rute fecal oral. Patogenesis yang tampak pada gambar diatas dibuat dengan menggunakan hamster sebagai model. Kebanyakan sel vegetative mati di dalam lambung, hanya sekitar 1% yang dapat sampai ke usus kecil. Spora C. difficile resisten terhadap asam sehingga dapat sampai ke usus kecil, dan tetap bertahan dan berkembang walaupun terdapat asam empedu. Beberapa factor virulensi termasuk flagella dan enzim hydrolytic juga merupakan factor penyebab penyakit. Namun, factor virulensi utama dari bakteri ini adalah toksin A dan toksin B.
Toksin A dan toksin B bersifat cytotoksin, kedua toksin ini menyebabkan kenaikan permeabilitas vascular dengan membuka hubungan antar sel, kedua toksin ini juga menyebabkan hemorraghi. Kedua toksin ini juga dapat menyebabkan tumor necrosis factor alpha dan profinflammatory interleukins yang menyebabkan respon radang dan bentukan pseudomembran. Pseudomembran colon ditandai dengan plak berwarna putih sampai kekuningan. Gambaran preparat histologi dari plak tersebut terdiri dari neutrophil, fibrin, mucin dan debris sel. Hanya strain C. difficile yang pathogen yang dappat menyebabkan diare.
Pada manusia dewasa penderita CDI karier asymptomatic toksin ini jarang ditemukan. Toksin A memiliki peran penting dalam pathogenesis bakteri, Karena toksin A menyebabkan kerusakan sel dan akumulasi cairan pada hewan coba, sedangkan toksin B tidak memiliki aktivitas enterotoksik secara langsung. Toksin B berperan setelah dinding gastrointestinal dirusak oleh toksin A (Poutanen, 2004).Jumlah kematian akibat enterocolitis yang disebabkan C. difficile mengalami peningkatan dari 793 kematian pada tahun 1999 menjadi 7483 pada tahun 2008, 93% kematian terjadi pada umur diatas 65 tahun.(Lessa, 2012).
Tingkat kejadian CDI pada anak anak mengalami peningkatan dari 0,724% menjadi 1,28 persen per 1000 penderita. Kejadian tertinggi terjadi pada anak usia 1 – 4 tahun serta kejadian terendah terjadi pada anak usia dibawah 1 tahun. Pengetahuan tentang CDI pada anak anak sangatlah sedikit, beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat kejadian CDI meningkat pada kelompok anak anak yang menderita kanker, transplatasi organ, gstrotomi dan jejunostomi (Lessa, 2012).Wanita postpartum memiliki resiko tinggi terinfeksi C. difficile pada tahun 2006 dilaporkan 1706 wanita postpartum menderita CDI di 4 (empat) Negara bagian amerika, 67% dari penderita melahirkan dengan cara Sectio caesaria (Lessa, 2012).
F. TINDAKANN PENGENDALIAN
Berhenti menggunakan antibiotik yang memicu infeksi ialah sangat penting serta mungkin merupakan satu-satunya pengobatan yang diperlukan. Yang lain mungkin membutuhkan pengobatan dengan antibiotik baru (metronidazole atau vancomycin). Antibiotik ini menahan pertumbuhan C. diff, saat mengizinkan bakteri normal untuk tumbuh di dalam usus. Demam biasanya hilang dalam 2 atau 3 hari, dan diare, dalam 3 atau 4 hari. Cairan diberikan untuk dehidrasi. Pengobatan lainnya adalah probiotik atau, untuk kasus yang lebih parah, operasi untuk mengangkat usus besar yang terkena. Probiotik adalah bakteri menguntungkan dan ragi yang membantu mengembalikan keseimbangan mikroorganisme yang sehat di dalam usus besar. Penyakit ini umumnya bisa kambuh dan memerlukan pengobatan lebih banyak lagi.
Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi infeksi clostridium difficile?
Gaya hidup dan pengobatan rumahan di bawah ini mungkin dapat mengatasi infeksi clostridium difficile:
• Ingat mencuci tangan dengan sabun dan air
• Gunakan antibiotik untuk C. diff sampai habis
• Minum banyak cairan yang mengandung air, garam, dan gula, misalnya jus buah encer, minuman kaleng, dan kaldu
• Makan makanan yang mengandung tepung jika terkena diare berair. Kentang, mi, nasi, gandum, oatmeal, dan biskuit asin merupakan pilihan baik



DAFTAR PUSTAKA

Ali, Sinaa M. 2006. Diagnosis Of Campylobacter Enteritis By Direct Microscopical Examination. Irak ;University of Dohuk

Dharmojono. 2001. Limabelas penyakit menular dari binatang ke manusia. Jakarta ; Milenia Populer

Gillespie, Stephen H.and Peter M. Hawkey.2005. Principles and Practice Of Clinical Bacteriology. UK ; John Wiley & Sons, Ltd

Hidayat, Nur. 1997. Penghambatan Kuman Campylobacter jejuni Pada Bahan Pangan.Jurnal Habitat Volume 8 No. 98.

Hu, L., dan D.J. Kopecko. 2003. Campylobacter Spesies. Di dalam Miliotis, M.D. dan J.F. Bier (eds). Internasional Handbook of Foodborne Pathogens. Marcel Dekker Inc., New York

Friedenberg,F, 2014. Clostridium difficile in Primary Care. www.Medcare.co.id

Gould, H.L dan Brandi L. 2010. Clostridium difficile in Food and Domestic Animals : A New Foodborne Pathogen?. Centers for Disease Control and Prevention, Atlanta, Georgia. Halaman 583 – 584

Prasetyo, D. 2004. Pengaruh Pemberian Antibiotik Terhadap Populasi dan Pengaruh Pemberian Antibiotik Terhadap Populasi dan Produksi Toksin Produksi Toksin Produksi Toksin Clostridium difficile Clostridium difficile pada Pasien Demam Tifoid dan Pneumonia serta Hubungannya dengan Tifoid dan Pneumonia serta Hubungannya dengan Gejala Diare Gejala Diare. Sari Pedati Vol. 5 halaman 58 – 63


Komentar

Postingan populer dari blog ini

makalah farmakologi II Antiseptik

Clostridium tetani

Clostridial infection