Makalah Farmakologi Obat Saluran Pernafasan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sistem pernafasan berperan penting dalam pertukaran oksigen (O2) dengan karbondioksida (O2). Secara fungsional sistem pencernaan terdiri dari trakea, bronkus, bronkiolus, alveolus, dan paru-paru. Alveolus dikelilingi oleh pipa-pipa kapiler, baik alveolus maupun kapiler tersusun oleh satu lapis sel yang memungkinkan terjadinya pertukaran antara O2 dengan CO2. Oksigen dari udara masuk melalui bronkus, bronkiolus, alveolus dan terjadi inspirasi lalu masuk ke sirulasi sistematik (darah) dan secara bersamaan CO2 didifusikan keluar dari pipa-pipa kapiler masuk ke alveolus yang selanjutnya dikeluarkan dari tubuh melalui pernapasan.
Semakin memburuknya kualitas udara di bumi, dan perubahan yang ekstrim menimbulkan penyakit pada saluran pernafasan. Dalam kasusnya kita sering menjumpai dari yang paling ringan seperti batuk, pilek, radang tenggorokan sampai yang berat seperti asma, radang paru-paru, emfisema, bronchitis dan lain-lain.
1.2. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk memenuhi tugas farmakologi.
2. Untuk mengetahui macam-macam obat yang di berikan pada pasien yang memiliki penyakit saluran pernafasan.
3. Untuk mengetahui beberapa golongan obat untuk saluran pernafasan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Saluran Pernafasan
Saluran pernapasan dibagi dalam 2 golongan utama:
1. saluran pernapasan atas, terdiri dari lobang hidung, rongga hidung, faring, laring
2. saluran pernafasan bawah terdiri dari trachea, bronchi, bronchioles, alveoli dan membran alveoulerv – kapiler
Ventilasi dan respirasi adalah dua istilah yang berbeda dan tidak boleh ditukar pemakaiannya. Ventilasi adalah pergerakan udara dari atmosfer melalui saluran pernapasan atas dan bawah menuju alveoli. Respirasi adalah proses dimana terjadi pertukaran gas pada membrane alveolar kapiler.
Infeksi saluran pernafasan adalah infeksi yang mengenai bagian manapun saluran pernafasan, mulai dari hidung, telinga tengah, faring, laring (bronkus bronkeolus) dan paru-paru.
• Jenis-jenis infeksi saluran pernafasan atas : batuk pilek, faringitis, sinusitis, dan toksilitis.
• Jenis infeksi saluran pernafasan bawah : asma, bronchitis kronik, emfizema, bronkioklialis.
CARA (cheronic aspecific respiratory affections)
Mencakup semua penyakit saluran nafas yang berartikan penyumbatan (obstruksi) bronchi di sertai pengembangan mukosa (udema) dan sekresi dahak (sputum) berlebihan. Penyakit-penyakit tersebut meliputi berbagai bentuk penyakit beserta peralihannya. Yakni asma, bronchitis kronis, dan emfisema paru yang gejala klinisnya dapat saling menutupi (everlapping). Gejala terpentingnya antara lain sesak nafas (dispnoe) saat mengeluarkan tenaga, selama istirahat dan sebagai serangan akut, juga batuk kronis dengan pengeluaran dahak kental. Karena gangguan tersebut memiliki mekanisme pathofisiologi yang berbeda-bedaa dengan penanganan yang juga tidak sama.
2.2 Obat Saluran Pernafasan.
2.2.1 Antihistamika
AntihistaminSebagai salah satu komponenn yang umum terdapat dalam obat-obat flu, antihistamin digunakan karena adanya efek antikolinergik, yang antara lain dapat mengurangi sekresi mukus.15 Obat ini digunakan untukmengatasi gejala bersin, rhinorrhoea, dan mataberair. Antihistamin generasi pertama yang banyakdigunakan antara lain adalah CTM, difenhidramin,feniramin.16 Hasil uji klinik acak terkontrol RCT (ramdomized clinical trial) antihistamin generasipertama menunjukkan hasil yang positif untukmengatasi gejala flu, namun tidak terbukti mencegah,mengobati atau mempersingkat seranganflu (Gitawati, 2014).
Contoh obat antihistamin
Nama Obat Dosis
Anti histamin
Difenhidramin
( Benadryl )
Kloerfenilamen maleat
Fenotiasin
(aksi antihistamin)
Prometazine
Timeprazine
Turunan piperazine
(aksi antihistamin)
hydroxyzine
D : PO : 25-50 mg, setiap 4-6 jam
D : PO, IM, IV : 5 mg/kg/h dalam 4 dosis terbagi, tidak lebih dari 300 mg/hari
D : IM:IV: 10-50 mg dosis tunggal
D: PO : 2-4 mg, setiap 4-6 jam
A: 6-12 thn: 2 mg, setiap 4-6 jam
A: 2-6 thn: PO, 1 mg, setiap 4-6 jam
D: PO: IM: 12,5-25 mg, setiap 4-6 jam
D: PO: 2,5 mg (4 x sehari)
A: 3-12 thn: O: 2,5 (3x sehari)
D: PO: 25-100 mg
A: (<6thn):>
Keterangan:
D: Dewasa, A: anak-anak, PO: per oral, IM: intramuscular, IV: intravena
2.2.2. Mukolitik
Obat golongan mukolitik merupakan obat batuk yang bekerja dengan cara mengencerkan sekret saluran pernafasan dengan jalan memecah benang benang mukoprotein dan mukopolisakarida dari sputum. Agen mukolitik berfungsi dengan cara mengubah viskositas sputum melalui aksi kimia langsung pada ikatan komponen mukoprotein.
Agen mukolitik yang terdapat di pasaran adalah bromheksin, ambroksol, dan asetilsistein Meskipun banyak digunakan, obat ini bukanlah terapi utama pada asma melainkan terapi tambahan untuk mengurangi batuk yang merupakan salah satu gejala asma yang muncul pada anak. Contoh obat : ambroxol, bromhexin.
2.2.3. Kromoglikat
Zat sintetik ini merupakan keturun dari khellin, suatu zat dengan kerja bronchospasmilitis yang terdapat dalam biji saga (Amni visage). Kromoglikat berkhasiat menstabilisasi membrane mastcell, sehingga menghalangi pelepasan mediator vasoaktif, seperti histamine, serotonin dan leukotrien pada watu terjadinya reaksi antigen-antibody.
Penggunaan kromoglikat sangat efektif sebagai obat pencegah serangan asma dan bronchitis yang bersifat alergis, conjunctivitis/rhintitis allergic (hay fever) dan alergi akibat bahan makanan. Untuk profilaksis yang optimal, obat ini perlu diberikan minimal 4 kali sehari yang efeknya baru nyata sesudah 2-4 minggu. Penggunaanya tidak boleh dihentikan dengan tiba-tiba karena dapat memicu serangan. Pada serangan akut, kromolin tidak efektif karena tidak memblok reseptor histamin (Tjay dan Kirana, 2015). Contoh Obat Kromoglikat adalah
2.2.4. Kortikosteroid
Kortikosteroid adalah antiinflamasi yang paling kuat yang sering diberikan pada penderita asma. Pemberiankortikosteroidyanglamapadaanakmerupakan perdebatan yang cukup lama. Para ahli sepakat bahwa pemberian kortikosteroidsecara sistemik dalam jangka panjang dapat mengganggu pertumbuhan anak sehingga harus berhati hati dan bila memungkinkan dihindari (Liansyah, 2014)
Kortikosteroid dikenal juga sebagai glukokortikosteroid, glukokortikoid atau steroid merupakan obat paling banyak digunakan di seluruh dunia untuk mengatasi gangguan imunitas atau inflamasi termasuk asma. Kortikosteroid mengurangi jumlah sel infalamasi saluran napas pada tingkat selular termasuk eosinofil, limfosit T, sel mast dan sel dendritik. Hal itu terjadi dengan menghambat perekrutan sel inflamasi ke dalam saluran napas melalui penekanan produksi mediator kemotaktik dan molekul adhesi serta menghambat keberadaan sel inflamasi dalam saluran nafas misalnya eosinofil, sel limfosit T dan sel mast (Rozaliyani dkk., 2011).
Kortikosteroid adalah salah satu obat antiinflamasi yang poten dan banyak digunakan dalam penatalaksanaan asma. Obat ini diberikan baik yang bekerja secara lokal maupun secara sistemik Kortikosteroid adalah pengobatan jangka panjang yang paling efektif untuk mengontrol asma. Kortikosteroid bekerja dengan menekan proses inflamasi dan mencegahtimbulnya berbagai gejala pada pasien asma. Contoh obat : hidrokortison, deksamethason, beklometason, budesonid.
Dari dua jenis obat golongan kortikosteroidyang digunakan, Prednison lebih besar persentasi pemberianya dibandingkan dengan Deksametason. Pemberian Prednison adalah sebesar 19,59% . Prednison lebih dipilih karena merupakan preparat oral golongan steroid yang bersifat short actings, efek mineralokortikoidnya minimal, masa kerjanya pendek sehingga efek sampingnya lebih sedikit serta efeknya terbatas pada otot . Sedangkan untuk Deksametason pemberiannya lebih sedikit yakni sebesar 14,43% . Pedoman Nasional Asma Anak menyatakan bahwa pemberian kortikosteroid secara sistemik (dalam hal ini Deksametason)haruslah berhati-hati karena obat ini mempunyai efek samping yang cukup berat (Yosmar dkk., 2015).
2.2.5. Bronkidilator
Istilah bronkodilator merujuk pada obat yang mempunyai efek mendilatasi atau relaksasi bronkus. Obat ini sering digunakan sebagai antiasma. Bronkokonstriksi dapat terjadi karena perangsangan parasimpatik atau hambatan simpatik dibronkus. Pada kasus asma perangsangan terjadi karena meningkatnya kepekaan bronkus terhadap rangsang.
Konstriksi bronkus dapat diredakan atau dikurangi dengan pemberian agonis β2 atau pemberian antagonis kolinergik serta obat golongan xantin. Obat simpatomimetik selektif β2 ini memiliki manfaat yang besar dan bronkodilator yang paling efektif dengan efek samping yang minimal pada terapi asma. Pemberian langsung melalui inhalasi akan meningkatkan bronkoselektifitas, memberikan efek yang lebih cepat dan memberikan efek perlindungan yang lebih besar terhadap rangsangan (misalnya alergen, latihan) yang menimbulkan bronkospasme dibandingkan bila diberikan secara sistemik (Yosmar dkk., 2015). Contoh agonis β selektif yang sering digunakan sebagai bronkodilator adalah: Albuterol, Terbutalin, Salmeterol, Salbutamol, Fenoterol.
Pada dasarnya efek bronkodilatasi golongan metilxantinsetara dengan inhalasi β2-Agonis, tetapi karena efek samping yang lebih banyak dan bataskeamanan yang sempit maka golongan metilxantin hanya dianjurkan jika pemberian kombinasi inhalasi β2-Agonis dan ipatropium bromide tidak memberikan respons (Yosmar dkk., 2015)
2.2.6. Inhalasi
Inhalasi adalah suatu cara penggunaan adrenergika dan kortikosteroida yang memberikan beberapa keuntungan dibandingkan pengobatan per oral. Efeknya lebih cepat, dosisnya jauh lebih rendah dan tidak diresorpsi ke dalam darah sehingga resiko efek sampingnya ringan sekali. Dalam sediaaninhalasi, obat dihisap sebagai aerosol (nebuhaler) atau sebagai serbuk halusv (turbuhaler).
Inhalasi dilakukan 3-4 kali sehari 2 semprotan, sebaiknya pada saat-saat tertentu, seperti sebelum atau sesudah mengelularkan ternaga, setelah bersentuhan dengan zat-zat yang merangsang (asap rokok, kabut, alergan, dan saat sesak napas).
Contoh obat :
minyak angin (aromatis), Metaproterenol
dosis : isoproterenol atau isuprel: 10-20 mg setiap 6-8 jam (dewasa). 5-10 mg setiap 6-8 jam.
2.2.7. Obat Batuk
Jenis obat batuk bebas yang sering ada di pasaran adalah jenis ekspektoran dan antitusif. Diketahui bahwa obat batuk tidak bisa disamaratakan untuk semua jenis batuk yang diderita. Antitusif untuk obat menekan refleks batuk, ekspektoran untuk merangsang dahak dikeluarkan dari saluran pernafasan, dan mukolitik untuk mengencerkan dahak. Antitusif akan diberikan kepada penderita batuk yang tidak berdahak, sedangkan ekspektoran dan mukolitik akan diberikan kepada penderita batuk yang berdahak (Meriati dkk., 2013).
2.3. Penggolongan Obat Saluran Pernafasan
2.3.1. Antitusif
Antitusif bekerja menghentikan batuk secara langsung dengan menekan refleks batuk pada sistem saraf pusat di otak. Dengan demikian tidak sesuai digunakan pada kasus batuk yang disertai dengan dahak kental, sebab justru akan menyebabkan dahak sulit dikeluarkan.
2.3.2. Ekspektoran
Ekspektoran umumnya diberikan untuk mempermudah pengeluaran dahak pada batuk kering (non produktif) agar menjadi lebih produktif. Ekspek toran bekerja dengan cara membasahi saluran napas sehingga mukus (dahak) menjadi lebih cair dan mudah dikeluarkan (dibatukkan) (Gitawati, 2014).
2.3.3. Antihistamin
Histamin sendiri merupakan substansi yang diproduksi oleh tubuh sebagai mekanisme alami untuk mempertahankan diri atas adanya benda asing. Adanya histamin ini menyebabkan hidung kita berair dan terasa gatal, yang biasanya dikuti oleh bersin-bersin.Selain berfungsi melawan alergi, antihistamin juga punya aktivitas menekan refleks batuk, terutama difenhidramin dan doksilamin.
2.3.4. Dekongestan
Dekongestan adalah stimulant reseptor alpha-1 adrenergik. Mekanisme kerja dekongestan (nasal decongestant) melalui vasokonstriksi pembuluh darah hidung sehingga mengurangi sekresi dan pembengkakan membran mukosa saluran hidung.30 Mekanisme ini membantu membuka sumbatan hidung. Namun, dekongestan juga dapat menyebabkan vasokonstriksi di tempattempat lainnya pada tubuh, sehingga dikontraindikasikan bagi penderita hipertensi yang tidak terkontrol, hipertiroid serta penderita penyakit jantung (Gitawati, 2014)
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Farmakologi pada sistem respirasi dan oksigenasi merupakan ilmu yang memepelajari tentang pemberian obat dan cara penanganan untuk para penderita penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada sistem respirasi. Berdasarkan data yang penulis peroleh dari beberapa sumber, dapat disimpulkan bahwa farmakologi pada sistem respirasi dan oksigenasi sangat berguna untuk kelangsungan hidup bagi para penderita penyakit yang berasal dan disebabkan oleh gangguan sistem respirasi. Penyakit dengan gangguan respirasi memang terlihat ringan, namun jika tidak segera mendapat penangan yang tepat bisa berdampak besar bagi kesehatan kita.
Banyak obat yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit dengan gangguan respirasi yaitu :
• Antihistamin
• Mukolitik
• Inhalasi
• Komoglikat
• Kortikosteroid dan lain-lain.
3.2 Saran
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dibeberapa bagian, sehingga sangat dimohonkan kepada para pembaca sekalian agar berkenan memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun dan membuat kami semakin berkembang dalam penulisan sebuah makalah dan penugasan yang sama.
DAFTAR PUSTAKA
Gitawati, R. 2014. Bahan aktif dalam kombinasi obat flu dan batuk pilek, dan pemilihan obat flu yang rasional. Makalah Litbangkes. 24(1).
Liansyah, T.M. 2014. Pendekatan kedokteran keluarga dalam penatalaksaan terkini serangan asma pada anak. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala. 14(3).
Meriati, N.W.E., L.R. Goenawi dan W. Wiyono. 2013. Dampak penyuluhan pada pengetahuan masyarakat terhadap pemilihan dan penggunaan obat batuk swamedikasi di kecamatan malalayang. Jurnal Ilmiah Farmasi. 2(3).
Rozaliyani, A., A.D Susanto., B. Swidarmoko dan F. Yunus. 2011. Mekanisme resistens kortikosteroid pada asma. Jurnal Respir Indonesia. 31(4).
Tjay, T.H dan K. Rahardja. 2013. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan Dan Efek-Efek Sampingnya. Gramedia, Jakarta.
Yosmar, R., M. Andani dan H. Arifin. 2015. Kajian regimen dosis penggunaan obat asma pada pasien pediatric rawat inap di bangsal anak RSUP. Dr. M. Djamil Padang. Jurnal Sains Farmasi dan Klinis. 2(1).
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sistem pernafasan berperan penting dalam pertukaran oksigen (O2) dengan karbondioksida (O2). Secara fungsional sistem pencernaan terdiri dari trakea, bronkus, bronkiolus, alveolus, dan paru-paru. Alveolus dikelilingi oleh pipa-pipa kapiler, baik alveolus maupun kapiler tersusun oleh satu lapis sel yang memungkinkan terjadinya pertukaran antara O2 dengan CO2. Oksigen dari udara masuk melalui bronkus, bronkiolus, alveolus dan terjadi inspirasi lalu masuk ke sirulasi sistematik (darah) dan secara bersamaan CO2 didifusikan keluar dari pipa-pipa kapiler masuk ke alveolus yang selanjutnya dikeluarkan dari tubuh melalui pernapasan.
Semakin memburuknya kualitas udara di bumi, dan perubahan yang ekstrim menimbulkan penyakit pada saluran pernafasan. Dalam kasusnya kita sering menjumpai dari yang paling ringan seperti batuk, pilek, radang tenggorokan sampai yang berat seperti asma, radang paru-paru, emfisema, bronchitis dan lain-lain.
1.2. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk memenuhi tugas farmakologi.
2. Untuk mengetahui macam-macam obat yang di berikan pada pasien yang memiliki penyakit saluran pernafasan.
3. Untuk mengetahui beberapa golongan obat untuk saluran pernafasan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Saluran Pernafasan
Saluran pernapasan dibagi dalam 2 golongan utama:
1. saluran pernapasan atas, terdiri dari lobang hidung, rongga hidung, faring, laring
2. saluran pernafasan bawah terdiri dari trachea, bronchi, bronchioles, alveoli dan membran alveoulerv – kapiler
Ventilasi dan respirasi adalah dua istilah yang berbeda dan tidak boleh ditukar pemakaiannya. Ventilasi adalah pergerakan udara dari atmosfer melalui saluran pernapasan atas dan bawah menuju alveoli. Respirasi adalah proses dimana terjadi pertukaran gas pada membrane alveolar kapiler.
Infeksi saluran pernafasan adalah infeksi yang mengenai bagian manapun saluran pernafasan, mulai dari hidung, telinga tengah, faring, laring (bronkus bronkeolus) dan paru-paru.
• Jenis-jenis infeksi saluran pernafasan atas : batuk pilek, faringitis, sinusitis, dan toksilitis.
• Jenis infeksi saluran pernafasan bawah : asma, bronchitis kronik, emfizema, bronkioklialis.
CARA (cheronic aspecific respiratory affections)
Mencakup semua penyakit saluran nafas yang berartikan penyumbatan (obstruksi) bronchi di sertai pengembangan mukosa (udema) dan sekresi dahak (sputum) berlebihan. Penyakit-penyakit tersebut meliputi berbagai bentuk penyakit beserta peralihannya. Yakni asma, bronchitis kronis, dan emfisema paru yang gejala klinisnya dapat saling menutupi (everlapping). Gejala terpentingnya antara lain sesak nafas (dispnoe) saat mengeluarkan tenaga, selama istirahat dan sebagai serangan akut, juga batuk kronis dengan pengeluaran dahak kental. Karena gangguan tersebut memiliki mekanisme pathofisiologi yang berbeda-bedaa dengan penanganan yang juga tidak sama.
2.2 Obat Saluran Pernafasan.
2.2.1 Antihistamika
AntihistaminSebagai salah satu komponenn yang umum terdapat dalam obat-obat flu, antihistamin digunakan karena adanya efek antikolinergik, yang antara lain dapat mengurangi sekresi mukus.15 Obat ini digunakan untukmengatasi gejala bersin, rhinorrhoea, dan mataberair. Antihistamin generasi pertama yang banyakdigunakan antara lain adalah CTM, difenhidramin,feniramin.16 Hasil uji klinik acak terkontrol RCT (ramdomized clinical trial) antihistamin generasipertama menunjukkan hasil yang positif untukmengatasi gejala flu, namun tidak terbukti mencegah,mengobati atau mempersingkat seranganflu (Gitawati, 2014).
Contoh obat antihistamin
Nama Obat Dosis
Anti histamin
Difenhidramin
( Benadryl )
Kloerfenilamen maleat
Fenotiasin
(aksi antihistamin)
Prometazine
Timeprazine
Turunan piperazine
(aksi antihistamin)
hydroxyzine
D : PO : 25-50 mg, setiap 4-6 jam
D : PO, IM, IV : 5 mg/kg/h dalam 4 dosis terbagi, tidak lebih dari 300 mg/hari
D : IM:IV: 10-50 mg dosis tunggal
D: PO : 2-4 mg, setiap 4-6 jam
A: 6-12 thn: 2 mg, setiap 4-6 jam
A: 2-6 thn: PO, 1 mg, setiap 4-6 jam
D: PO: IM: 12,5-25 mg, setiap 4-6 jam
D: PO: 2,5 mg (4 x sehari)
A: 3-12 thn: O: 2,5 (3x sehari)
D: PO: 25-100 mg
A: (<6thn):>
Keterangan:
D: Dewasa, A: anak-anak, PO: per oral, IM: intramuscular, IV: intravena
2.2.2. Mukolitik
Obat golongan mukolitik merupakan obat batuk yang bekerja dengan cara mengencerkan sekret saluran pernafasan dengan jalan memecah benang benang mukoprotein dan mukopolisakarida dari sputum. Agen mukolitik berfungsi dengan cara mengubah viskositas sputum melalui aksi kimia langsung pada ikatan komponen mukoprotein.
Agen mukolitik yang terdapat di pasaran adalah bromheksin, ambroksol, dan asetilsistein Meskipun banyak digunakan, obat ini bukanlah terapi utama pada asma melainkan terapi tambahan untuk mengurangi batuk yang merupakan salah satu gejala asma yang muncul pada anak. Contoh obat : ambroxol, bromhexin.
2.2.3. Kromoglikat
Zat sintetik ini merupakan keturun dari khellin, suatu zat dengan kerja bronchospasmilitis yang terdapat dalam biji saga (Amni visage). Kromoglikat berkhasiat menstabilisasi membrane mastcell, sehingga menghalangi pelepasan mediator vasoaktif, seperti histamine, serotonin dan leukotrien pada watu terjadinya reaksi antigen-antibody.
Penggunaan kromoglikat sangat efektif sebagai obat pencegah serangan asma dan bronchitis yang bersifat alergis, conjunctivitis/rhintitis allergic (hay fever) dan alergi akibat bahan makanan. Untuk profilaksis yang optimal, obat ini perlu diberikan minimal 4 kali sehari yang efeknya baru nyata sesudah 2-4 minggu. Penggunaanya tidak boleh dihentikan dengan tiba-tiba karena dapat memicu serangan. Pada serangan akut, kromolin tidak efektif karena tidak memblok reseptor histamin (Tjay dan Kirana, 2015). Contoh Obat Kromoglikat adalah
2.2.4. Kortikosteroid
Kortikosteroid adalah antiinflamasi yang paling kuat yang sering diberikan pada penderita asma. Pemberiankortikosteroidyanglamapadaanakmerupakan perdebatan yang cukup lama. Para ahli sepakat bahwa pemberian kortikosteroidsecara sistemik dalam jangka panjang dapat mengganggu pertumbuhan anak sehingga harus berhati hati dan bila memungkinkan dihindari (Liansyah, 2014)
Kortikosteroid dikenal juga sebagai glukokortikosteroid, glukokortikoid atau steroid merupakan obat paling banyak digunakan di seluruh dunia untuk mengatasi gangguan imunitas atau inflamasi termasuk asma. Kortikosteroid mengurangi jumlah sel infalamasi saluran napas pada tingkat selular termasuk eosinofil, limfosit T, sel mast dan sel dendritik. Hal itu terjadi dengan menghambat perekrutan sel inflamasi ke dalam saluran napas melalui penekanan produksi mediator kemotaktik dan molekul adhesi serta menghambat keberadaan sel inflamasi dalam saluran nafas misalnya eosinofil, sel limfosit T dan sel mast (Rozaliyani dkk., 2011).
Kortikosteroid adalah salah satu obat antiinflamasi yang poten dan banyak digunakan dalam penatalaksanaan asma. Obat ini diberikan baik yang bekerja secara lokal maupun secara sistemik Kortikosteroid adalah pengobatan jangka panjang yang paling efektif untuk mengontrol asma. Kortikosteroid bekerja dengan menekan proses inflamasi dan mencegahtimbulnya berbagai gejala pada pasien asma. Contoh obat : hidrokortison, deksamethason, beklometason, budesonid.
Dari dua jenis obat golongan kortikosteroidyang digunakan, Prednison lebih besar persentasi pemberianya dibandingkan dengan Deksametason. Pemberian Prednison adalah sebesar 19,59% . Prednison lebih dipilih karena merupakan preparat oral golongan steroid yang bersifat short actings, efek mineralokortikoidnya minimal, masa kerjanya pendek sehingga efek sampingnya lebih sedikit serta efeknya terbatas pada otot . Sedangkan untuk Deksametason pemberiannya lebih sedikit yakni sebesar 14,43% . Pedoman Nasional Asma Anak menyatakan bahwa pemberian kortikosteroid secara sistemik (dalam hal ini Deksametason)haruslah berhati-hati karena obat ini mempunyai efek samping yang cukup berat (Yosmar dkk., 2015).
2.2.5. Bronkidilator
Istilah bronkodilator merujuk pada obat yang mempunyai efek mendilatasi atau relaksasi bronkus. Obat ini sering digunakan sebagai antiasma. Bronkokonstriksi dapat terjadi karena perangsangan parasimpatik atau hambatan simpatik dibronkus. Pada kasus asma perangsangan terjadi karena meningkatnya kepekaan bronkus terhadap rangsang.
Konstriksi bronkus dapat diredakan atau dikurangi dengan pemberian agonis β2 atau pemberian antagonis kolinergik serta obat golongan xantin. Obat simpatomimetik selektif β2 ini memiliki manfaat yang besar dan bronkodilator yang paling efektif dengan efek samping yang minimal pada terapi asma. Pemberian langsung melalui inhalasi akan meningkatkan bronkoselektifitas, memberikan efek yang lebih cepat dan memberikan efek perlindungan yang lebih besar terhadap rangsangan (misalnya alergen, latihan) yang menimbulkan bronkospasme dibandingkan bila diberikan secara sistemik (Yosmar dkk., 2015). Contoh agonis β selektif yang sering digunakan sebagai bronkodilator adalah: Albuterol, Terbutalin, Salmeterol, Salbutamol, Fenoterol.
Pada dasarnya efek bronkodilatasi golongan metilxantinsetara dengan inhalasi β2-Agonis, tetapi karena efek samping yang lebih banyak dan bataskeamanan yang sempit maka golongan metilxantin hanya dianjurkan jika pemberian kombinasi inhalasi β2-Agonis dan ipatropium bromide tidak memberikan respons (Yosmar dkk., 2015)
2.2.6. Inhalasi
Inhalasi adalah suatu cara penggunaan adrenergika dan kortikosteroida yang memberikan beberapa keuntungan dibandingkan pengobatan per oral. Efeknya lebih cepat, dosisnya jauh lebih rendah dan tidak diresorpsi ke dalam darah sehingga resiko efek sampingnya ringan sekali. Dalam sediaaninhalasi, obat dihisap sebagai aerosol (nebuhaler) atau sebagai serbuk halusv (turbuhaler).
Inhalasi dilakukan 3-4 kali sehari 2 semprotan, sebaiknya pada saat-saat tertentu, seperti sebelum atau sesudah mengelularkan ternaga, setelah bersentuhan dengan zat-zat yang merangsang (asap rokok, kabut, alergan, dan saat sesak napas).
Contoh obat :
minyak angin (aromatis), Metaproterenol
dosis : isoproterenol atau isuprel: 10-20 mg setiap 6-8 jam (dewasa). 5-10 mg setiap 6-8 jam.
2.2.7. Obat Batuk
Jenis obat batuk bebas yang sering ada di pasaran adalah jenis ekspektoran dan antitusif. Diketahui bahwa obat batuk tidak bisa disamaratakan untuk semua jenis batuk yang diderita. Antitusif untuk obat menekan refleks batuk, ekspektoran untuk merangsang dahak dikeluarkan dari saluran pernafasan, dan mukolitik untuk mengencerkan dahak. Antitusif akan diberikan kepada penderita batuk yang tidak berdahak, sedangkan ekspektoran dan mukolitik akan diberikan kepada penderita batuk yang berdahak (Meriati dkk., 2013).
2.3. Penggolongan Obat Saluran Pernafasan
2.3.1. Antitusif
Antitusif bekerja menghentikan batuk secara langsung dengan menekan refleks batuk pada sistem saraf pusat di otak. Dengan demikian tidak sesuai digunakan pada kasus batuk yang disertai dengan dahak kental, sebab justru akan menyebabkan dahak sulit dikeluarkan.
2.3.2. Ekspektoran
Ekspektoran umumnya diberikan untuk mempermudah pengeluaran dahak pada batuk kering (non produktif) agar menjadi lebih produktif. Ekspek toran bekerja dengan cara membasahi saluran napas sehingga mukus (dahak) menjadi lebih cair dan mudah dikeluarkan (dibatukkan) (Gitawati, 2014).
2.3.3. Antihistamin
Histamin sendiri merupakan substansi yang diproduksi oleh tubuh sebagai mekanisme alami untuk mempertahankan diri atas adanya benda asing. Adanya histamin ini menyebabkan hidung kita berair dan terasa gatal, yang biasanya dikuti oleh bersin-bersin.Selain berfungsi melawan alergi, antihistamin juga punya aktivitas menekan refleks batuk, terutama difenhidramin dan doksilamin.
2.3.4. Dekongestan
Dekongestan adalah stimulant reseptor alpha-1 adrenergik. Mekanisme kerja dekongestan (nasal decongestant) melalui vasokonstriksi pembuluh darah hidung sehingga mengurangi sekresi dan pembengkakan membran mukosa saluran hidung.30 Mekanisme ini membantu membuka sumbatan hidung. Namun, dekongestan juga dapat menyebabkan vasokonstriksi di tempattempat lainnya pada tubuh, sehingga dikontraindikasikan bagi penderita hipertensi yang tidak terkontrol, hipertiroid serta penderita penyakit jantung (Gitawati, 2014)
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Farmakologi pada sistem respirasi dan oksigenasi merupakan ilmu yang memepelajari tentang pemberian obat dan cara penanganan untuk para penderita penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada sistem respirasi. Berdasarkan data yang penulis peroleh dari beberapa sumber, dapat disimpulkan bahwa farmakologi pada sistem respirasi dan oksigenasi sangat berguna untuk kelangsungan hidup bagi para penderita penyakit yang berasal dan disebabkan oleh gangguan sistem respirasi. Penyakit dengan gangguan respirasi memang terlihat ringan, namun jika tidak segera mendapat penangan yang tepat bisa berdampak besar bagi kesehatan kita.
Banyak obat yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit dengan gangguan respirasi yaitu :
• Antihistamin
• Mukolitik
• Inhalasi
• Komoglikat
• Kortikosteroid dan lain-lain.
3.2 Saran
Dalam penyusunan makalah ini penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dibeberapa bagian, sehingga sangat dimohonkan kepada para pembaca sekalian agar berkenan memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun dan membuat kami semakin berkembang dalam penulisan sebuah makalah dan penugasan yang sama.
DAFTAR PUSTAKA
Gitawati, R. 2014. Bahan aktif dalam kombinasi obat flu dan batuk pilek, dan pemilihan obat flu yang rasional. Makalah Litbangkes. 24(1).
Liansyah, T.M. 2014. Pendekatan kedokteran keluarga dalam penatalaksaan terkini serangan asma pada anak. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala. 14(3).
Meriati, N.W.E., L.R. Goenawi dan W. Wiyono. 2013. Dampak penyuluhan pada pengetahuan masyarakat terhadap pemilihan dan penggunaan obat batuk swamedikasi di kecamatan malalayang. Jurnal Ilmiah Farmasi. 2(3).
Rozaliyani, A., A.D Susanto., B. Swidarmoko dan F. Yunus. 2011. Mekanisme resistens kortikosteroid pada asma. Jurnal Respir Indonesia. 31(4).
Tjay, T.H dan K. Rahardja. 2013. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan Dan Efek-Efek Sampingnya. Gramedia, Jakarta.
Yosmar, R., M. Andani dan H. Arifin. 2015. Kajian regimen dosis penggunaan obat asma pada pasien pediatric rawat inap di bangsal anak RSUP. Dr. M. Djamil Padang. Jurnal Sains Farmasi dan Klinis. 2(1).
Komentar
Posting Komentar