laporan prakerin jurusan Agribisnis ternak unggas (REVISI)



BAB I
PENDAHULUAN
1.1      LATAR BELAKANG
PRAKERIN (Praktek Kerja Industri) adalah kegiatan pendidikan, pelatihan dan pembelajaran yang dilaksanakan di dunia usaha atau dunia industri dalam upaya pendekatan ataupun untuk meningkatkan mutu siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan kompetensi (kemampuan) siswa sesuai bidangnya dan juga menambah bekal untuk masa-masa mendatang guna memasuki dunia kerja yang semakin banyak serta ketat dalam persaingannya seperti di masa sekarang ini.
Dalam pelaksanaannya dilakukan dengan prosedur tertentu, bagi siswa yang bertujuan untuk magang disuatu tempat kerja, baik dunia usaha maupun di dunia industri setidaknya sudah memiliki kemampuan dasar sesuai bidang yang digelutinya atau sudah mendapatkan bekal dari pembimbing disekolah untuk memiliki ilmu-ilmu dasar yang akan diterapkan dalam dunia usaha atau dunia industri. Alasan utama mengapa para siswa-siswi harus memiliki bekal ilmu pengetahuan dasar sesuai bidangnya agar dalam pelaksanaan Praktek Kerja Industri tidak mengalami kendala dalam penerapan ilmu pengetahuan dasar yang kemungkinan besar dalam proses praktek kerja industri mendapatkan ilmu-ilmu baru yang tidak diajarkan di Lembaga Kejuruan terkait.
Dalam pelaksanaan Praktek Kerja Industri ini diharapkan setiap siswa-siswi mampu mengikuti kegiatan kerja serta memahami kegiatan kerja yang dilakukan di dunia usaha ataupun di dunia industri agar siswa-siswi tersebut dapat mencapai serta mendapatkan sesuatu yang baik dan berguna bagi dirinya serta agar siswa- siswi tersebut mampu menunjukan kinerjanya secara maksimal apa yang telah dilakukannya selama berada di dunia usaha atau dunia industri sehingga mampu membuat dirinya diperhitungkan di dunia usaha atau dunia industri. Prakerin memberikan dan sekaligus mengajarkan kepada anak didik akan dan bagaimana kehidupan di dunia kerja. disamping ajang uji coba ilmu yang ia pelajari. melalui prakerin siswa diharapkan mampu memahami tentang bagaimana tata dan aturan di dunia industri/usaha, sehingga ketika ia nantinya tamat ia sudah benar-benar siap bekerja baik secara keilmuan maupun secara kejiwaan dan mental.
1.2      TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan Praktek Kerja Industri
1.      Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional dengan tingkat pengetahuan dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja.
2.      Memperkokoh Link and Match antara dunia pendidikan dengan dunia kerja.
3.      Memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian proses pendidikan.
4.      Membekali siswa dengan pengalaman-pengalaman yang sebenarnya di dalam dunia kerja, sebagai persiapan guna menyesuaikan diri dengan dunia kerja  dan masyarakat.
5.      Siswa dapat meningkatkan rasa percaya dirinya, dalam memecahkan berbagai masalah atau kesulitan yang ditemuinya.
6.      Untuk merealisasikan pengetahuan yang di dapat dari sekolah dengan pekerjaan yang sebenarnya di industri.
Manfaat Praktek Kerja Industri
1.      Keahlian profesional yang diperoleh dari praktek kerja lapangan, dapat meningkatkan rasa percaya diri, yang selanjutnya akan mendorong untuk meningkatkan keahlian profesional pada tingkat yang lebih tinggi.
2.      Waktu tempuh untuk mencapai keahlian profesional menjadi lebih singkat. Setelah lulus sekolah dengan praktek kerja lapangan, tidak memerlukan lagi waktu latihan lanjutan untuk mencapai tingkat keahlian siap pakai.
3.      Melatih disiplin, tanggung jawab, inisiatif, kreatifitas, motivasi kerja, kerjasama, tingkah laku, emosi dan etika.
1.3   WAKTU DAN TEMPAT
Pelaksanaan Praktek Kerja Industri ini dilaksanakan pada tanggal 28 juli 2015 – 28 oktober 2015 di Farm SMK Negeri I Jantho.
1.4      PEMBIMBING
Pembimbing pada Praktek Kerja Indutri  ini adalah Ibu Ismeini, SP.




BAB II
TINJAUAN UMUM INDUSTRI
2.1   SEJARAH SINGKAT
Farm SMK Negeri I jantho, didirikan pada tahun yang sama dengan berdirinya  SMK Negeri I jantho, yaitu pada tahun 2000, mengingat jurusan                     agribisnis ternak unggas adalah jurusan tertua di SMK ini, pada dulunya farm SMK Jantho menjalankan usaha peternakan ruminansia serta unggas namun seiring berjalannya waktu dan dikarenakan adanya sesuatu hal, usaha farm SMK jantho sempat vakum untuk beberapa tahun.
Dan pada awal tahun 2009 Farm SMK Jantho kembali bangkit dan Usaha yang dijalankan di Farm SMK Jantho adalah peternakan ayam broiler (pedaging) dan ayam Layer (petelur) dan untuk ruang lingkup pemasaran di Farm SMK Jantho yaitu pasar jantho dan individual yang langsung datang ke Farm SMK Jantho untuk membeli hasil dari Farm SMK Negeri Jantho.
Berdirinya Farm SMK Jantho bertujuan untuk menunjang proses belajar mengajar siswa di SMK Negeri I jantho, lebih tepatnya siswa Jurusan Agribisnis Ternak Unggas, dan juga selain daripada itu, untuk melatih siswa agar lebih mengetahui seluk beluk dalam dunia usaha atau dunia industri



2.2   STRUKTUR ORGANISASI
·         Struktur Organisasi SMK Negeri I Kota Jantho
Kepala SMK Negeri I KotaJantho
Drs. Khairuddin
Waka Kesiswaan
Elizar, S.Pd
Waka Kurikulum
Agustina, S.Pd
Waka Sarana
Budiman, S.Pd
Waka Humas / Hubmi
Detsi Marlina, S.Pt, M.Pd
Kepala Kompetensi Kejuruan
Agribisnis Ternak Unggas
Ismeini, SP
Teknik Mesin
Bustamin, ST
Teknik Otomotif
Muhammad Yusuf, ST, MT
Teknik Komputer Jaringan
Mauluddin, S.Pd
Busana Butik
Ruwaida, S.Pd
 





















·         Struktur Organisasi Jurusan Agribisnis Ternak Unggas

Kepala Kompetensi Keahlian
Ismeini, SP
Kepala Laboratorium
Hasnawati, S.Pt, MP
Bendahara
Detsi Marlina, S.Pt, M.Pd
Wali Kelas
Kelas X
Ir. Rusmiati
Kelas XI
Hasnawati, S.Pt, MP
Kelas XII
Ir. Siti Jamaliah
 
















2.3   PERATURAN DAN TATA TERTIB
1.      Mematuhi peraturan yang berlaku dalam industri
2.      Waktu kerja dimulai dari pukul 08.00 – 17.00 WIB
3.      Mengenakan pakaian seragam praktek pada saat prakerin
4.      Berlaku sopan serta jujur, bertanggung jawab dan kreatif terhadap tugas-tugas yang diberikan dalam kegiatan praktek
5.      Memberitahu apabila berhalangan hadir atau bermaksud untuk meninggalkan tempat prakerin
6.      Mentaati peraturan dalam penggunaan alat dan bahan yang dipakai dalam prakerin
7.      Membersihkan dan mengatur kembali peralatan dengan rapi seperti semula setelah meninggalkan tempat prakerin
8.      Harus mematuhi kesehatan dan keselamatan kerja (K3)







BAB III
TINJAUAN KHUSUS
3.1   MATERI
1.   PERKANDANGAN
Perkandangan merupakan segala aspek fisik yang berkaitan dengan kandang dan sarana maupun prasarana yang bersifat sebagai penunjang kelengkapan dalam suatu peternakan.
Kandang merupakan unsur penting dalam usaha peternakan ayam. Kandang dipergunakan mulai dari awal hingga masa berproduksi. Pada prinsipnya, kandang yang baik adalah kandang yang sederhana, biaya pembuatan murah, dan memenuhi persyaratan teknis (Martono, 1996).
Secara umum kandang berfungsi untuk menghindari ternak dari terik matahari, hujan, angin kencang secara langsung, menghindari ternak membuang kotoran sembarangan, mempermudah dalam pengelolaan dan pengawasan terhadap penggunaan pakan, pertumbuhan, dan gejala penyakit, menjaga kehangatan ternak saat malam hari atau musim dingin, serta gangguan binatang buas dan pencuri (Sudarmono, 2011).
Tipe kandang ayam ras pedaging ada dua, yaitu bentuk panggung dan tanpa panggung (litter). Tipe panggung memiliki lantai kandang lebih bersih karena kotoran langsung jatuh ke tanah, tidak memerlukan alas kandang sehingga pengelolaan lebih efisien, tetapi biaya pembuatan kandang lebih besar. Tipe litter lebih banyak dipakai peternak, karena lebih mudah dibuat dan lebih murah (Anonimous, 2008).
1.1    Syarat Kandang
Adapun syarat kandang yang baik agar social walfare ayam terjaga adalah :
1.      Dinding kandang dapat terbuat dari papan, bilah bambu, ram kawat, dinding kandang tidak boleh terlalu rapat atau terlalu jarang, hal ini dimaksudkan untuk keleluasaan sirkulasi udara kandang, dan tidak boleh terlalu jarang agar  predator tidak dapat masuk ke dalam kandang
2.      Arah kandang sebaiknya membujur dari timur-barat. Hal ini dimaksudkan agar ayam tidak terlalu kepanasan, tetapi pada pagi hari masih dapat memperoleh sinar matahari
3.      Tinggi tiang tengah keatap minimal 6-7 meter dan tiang tepi minimal     2,5-3 meter, hal ini berhubungan dengan sirkulasi udara dalam kandang, lebar kandang maksimal 6-8 meter
4.      Atap kandang dirancang sesuai dengan fungsinya yaitu melindungi bangunan beserta isinya dari hujan, panas matahari dan angin
5.      Lantai kandang sebaiknya di semen kasar sehingga mudah dibersihkan dan akan mengurangi bahaya penyakit cocsidiosis

1.2    Pemilihan Lokasi Kandang
Lokasi kandang yang baik adalah :
·         Dekat dengan sumber air
·         Jauh dari pemukiman masyarakat
·         Sarana transportasi mudah terjangkau
·         Dibangun ditempat yang datar untuk memudahkan pembangunan dengan konstruksi sederhana
·         Tekstur tanah dan struktur tanah tempat kandang harus padat, tetapi mudah diserap air sehingga bila hujan tidak terjadi genangan
·         Sirkulasi udara lancar

1.3   Kepadatan Kandang
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi daya tampung kandang adalah umur ayam yang menempati kandang tersebut. Semakin besar umur maka jumlah ayam yang mampu ditampung dalam suatu luas kandang akan semakin menurun, seperti terlihat pada tabel
Umur Ayam
Kepadatan kandang (ekor/m2)
Minggu ke-1
Minggu ke-2
Minggu ke-3
Minggu ke-4
Minggu ke-5
50 – 40 ekor/m2
40 – 30 ekor/m2
30 – 20 ekor/m2
20 – 10 ekor/m2
10 – 8   ekor/m2

1.4  Sanitasi Kandang Dan Lingkungan
Sanitasi adalah upaya pencegahan terhadap kemungkinan berkembangbiaknya mikroba pembusuk dan pathogen dalam makanan, minuman, peralatan dan bangunan yang dapat merusak pangan asal hewan dan membahayakan kesehatan manusia (Marriot, 1999).
Secara umum sanitasi adalah usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan perpindahan penyakit tersebut. Sedangkan, desinfeksi adalah menghancurkan/membunuh mikro organisme patogen penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik pada lingkungan, kandang dan peralatannya.
Tahap – Tahap sanitasi kandang
1.      Mengeluarkan semua tempat pakan dan tempat minum dari kandang
2.      Pembersihan kotoran dan sekam (litter)
3.      Menyapu kandang
4.      Pemasangan tirai serta memperbaiki kandang jika ada bagian yang rusak
5.      Mencuci tempat pakan dan tempat minum
6.      Pencucian kandang dengan air bersih
7.      Pencucian kandang dengan deterjen
8.      Penyemprotan dengan desinfektan
9.      Pengapuran kandang
10.  Kandang di istirahatkan (dikosongkan) selama 2 minggu
Adapun tujuan dari pengosongan ini adalah untuk memutuskan siklus penyakit produksi sebelumnya ke masa produksi berikutnya ( Rasyaf, 1995 )
Selain dari kegiatan sanitasi dan desinfeksi, dapat juga dilakukan kegiatan fumigasi yang bertujuan untuk membunuh atau mematikan semua bibit-bibit penyakit yang masih tersisa didalam kandang.
Fumigasi adalah pensucihamaan dengan menggunakan gas formaldehida. Gas formaldehida adalah campuran dari Formalin dan Kalium permanganat (KMnO4)
Dosis formalin banding KMnO4 adalah 2 : 1
Dosis fumigan untuk ruangan sebesar 2,83 m2
Kekuatan
Formalin (cc)
KMnO4 (gram)
1    kali
2        kali
3        kali
4        kali
5        kali
40
80
120
160
200
20
40
60
80
100


Cara Fumigasi:
  1. Sebagai persiapan, seluruh ruang harus ditutup terlebih dahulu dengan plastik.
  2. Ditengah-tengah ruang disediakan wadah, yang terbuat dari tanah liat atau kaca.
  3. Selanjutnya KMnO4 yang berbentuk tepung dimasukan ke dalam wadah yang tersedia, kemudian siramkan formalin kedlamnya sesuai dosis yang di inginkan. Segera berlari ke luar ruangan, asap akan segera menyebar.
  4. Biarkan gas formaldehida yang terbentuk dari reaksi kimia dari kedua unsur tadi habis menguap. Sifat gas formaldehida dapat membunuh kuman penyakit dengan cepat, dan gas tersebut dapat mencapai celah-celah kecil yang lebih dalam yang mungkin tidak terjangkau pada waktu dibersihkan. Tetapi karena gas ini beracun, harus ekstra berhati - hati.
2.   PENERIMAAN DOC
2.1   Brooding Ring
Menghitung luas brooding ring untuk 100 ekor DOC
 m
1,95 m2
2.2   Menimbang bobot rata-rata DOC
Rumus :

atau diambil 10 % sampel dari populasi
     
2.3   Seleksi DOC
       Seleksi anak ayam yang baru menetas merupakan pemisahan antara anak ayam dengan kualitas baik dan yang tidak baik, untuk selanjutnya anak ayam yang tidak baik akan diafkir (Suprijatna et al., 2005). Seleksi juga dapat didefinisikan yaitu memilih ayam yang kualitasnya memenuhi standar dari kelompoknya yang meliputi kesehatan, aktifitas, warna bulu dan performa (AAK, 1991).     Tujuan seleksi agar mendapatkan ternak yang sehat dan mampu berpro-duksi tinggi
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan atau dipenuhi syaratnya untuk DOC yang akan dipelihara
a)      DOC harus sehat, karena jika tidak sehat maka akan menjadi penyebar penyakit
b)      Tidak cacat, karena apabila cacat kemungkinan kematian tinggi dan pemeliharaannya sulit
c)      Warna bulu seragam, apabila ada yang berbeda maka kemungkinan besar darahnya sudah tidak murni lagi sehingga pertumbuhannya juga bervariasi
d)     Berat badan anak ayam yang dihasilkan biasanya berkisar antara          32,5 - 42,5 gram/ekor (ayam ras) dianggap sudah baik
e)      Berasal dari induk yang sehat
f)       Menetas tepat waktu
g)      DOC memiliki kaki yang berminyak, berkilap (tidak kering)
h)      DOC mempunyai mata yang cerah, bercahaya, aktif dan tampak segar
i)        Pada bagian perut DOC tidak mengeras
j)        Pusar kering dan tidak menghitam (bad navel) bulu lengkap menutup tubuh serta tidak ada feses pada dubur
2.4   Sexing
Sexing adalah memisahkan/memilih antara ayam jantan dan betina. Biasanya dilakukan dengan metode buka kloaka, perbedaan warna bulu, dan perbedaan panjang bulu sayap (Suprijatna et al., 2005). ). Menurut Nuryati dan Sutarto (2000), “sexing” dengan melihat perbedaan warna bulu disebabkan adanya sifat-sifat tertentu yang terkait dengan kromosom yang berhubungan dengan jenis kelamin. Sexing dengan perbedaan bulu sayap biasanya dilakukan pada ayam yang pertumbuhan bulunya cepat dengan melihat bulu sayap runcing pada ayam betina dan pada jantan bulu sayap tidak runcing.
Feather Sexing bertujuan untuk mengetahui jenis kelamin dari DOC dengan melihat pertumbuhan bulu sayap. Ditemukan pada tahun 1969 setelah tiga tahun penelitian genetik intensif oleh Tegeis Poultry Breeding Company, yang mengembangkan strain ayam broiler yang bisa dibedakan berdasarkan bulu (Feather Sexed). Ayam Broiler tersebut adalah dengan strain yang akan menghasilkan bulu lambat pada jantan dan pada betina tumbuh cepat
            Perbedaan kecepatan tumbuh bulu sayap primer disebabkan oleh gen yang terletak pada kromosom kelamin induk ayam betina dan induk ayam jantan. Dimana ada bulu-bulu yang cepat tumbuh dan bulu yang lambat tumbuh
DOC Jantan : Bulu penutup / bulu sayap atas ( coverts ) sama panjang atau lebih panjang daripada bulu sayap primer (primary)
DOC Betina : Bulu penutup / bulu sayap atas ( coverts ) lebih pendek daripada bulu sayap primer (primary)
Dari hasil yang kami lakukan didapat :
·         Jantan = 62 ekor
·         Betina  = 37 ekor
2.5   Vaksinasi                                                                                               
1.      Pengertian vaksin
Vaksinasi adalah suatu usaha untuk memberikan kekebalan pada ayam, agar ayam tersebut kebal terhadap serangan suatu penyakit (Murtidjo, 1992) . Menurut Suprijatna et all (2005) vaksinasi didefinisikan sebagai suatu kegiatan memasukkan bibit penyakit (mikroorganisme) tertentu yang telah dilemahkan ke dalam tubuh ternak dalam rangka menumbuhkan kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu tersebut.

2.      Tujuan Vaksinasi
1)      Membuat ayam mempunyai kekabalan yang tinggi terhadap suatu penyakit tertentu.
2)      Untuk meningkatkan daya tahan tubuh ayam terhadap penyakit tertentu.
3)      Untuk mengurangi kemungkinan serangan penyakit tertentu.
4)      Untuk mencegah terjangkitnya suatu penyakit sesuai dengan vaksin yang diberikan.
5)      Untuk meningkatkan kesehatan ternak ayam.
3.      Jenis Vaksin
Vaksin terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :
1)      Vaksin Live (vaksin aktif) yaitu vaksin yang berisi mikroorganisme penyakit yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan. Biasanya vaksin aktif berbentuk sediaan kering beku. Vaksin aktif disimpan pada suhu 2-8 ºC. Vaksin aktif harus segera dipakai dalam jangka waktu dua jam setelah dilarutkan.
2)      Vaksin Killed (vaksin inaktif) yaitu vaksin yang berisi mikroorganisme penyakit yang sudah mati tetapi masih bersifat immunogenic. Vaksin inaktif harus disimpan pada suhu 8 ºC dan tidak boleh disimpan di freezer, karena vaksin akan rusak.



4.      Cara melaksanakan vaksinasi
1)      Metode tetes mata (Intra-Ocular)
Vaksinasi tetes mata dilakukan dengan cara meneteskan vaksin ke mata ayam. Cara pelaksanaannya sebagai berikut :
·         Larutan dapar dituangkan kedalam botol vaksin sehingga berisi 2/3 bagian dari botol tersebut, kemudian ditutup lalu dikocok sampai rata, usahakan jangan sampai berbuih.
·         Larutan vaksin dituangkan kembali kedalam botol yang masih berisi sisia larutan, kemudian ditutup dan lalu dikocok sampai merata.
·         Penutup dengan penetesnya digunakan untuk vaksinasi melalui tetes mata, satu tetes untuk satu ekor ayam, ayam baru dilepas jika mata sudah dikejapkan sehingga vaksin masuk dengan sempurna.
2)      Suntik daging (Intramuscular)
Vaksinasi suntik daging dilaksanakan dengan cara menyuntikkan vaksin kedalam daging. Biasanya penyuntikan dilakukan dibagian dada dan paha. Adapun  cara pelaksanaan vaksinasinya sebagai berikut :
·         Sebelum digunakan, kocok vaksin secara hati-hati hingga tercampur merata.
·         Suntikkan vaksin kedaging dengan dosis sesuai anjuran.
·         Semua peralatan yang digunakan harus steril, baik ketika melakukan vaksinasi maupun setelah digunakan.
3)      Suntik bawah kulit (subcutan)
Vaksinasi suntik dibawah kulit dilaksanakan dengan cara menyuntikkan vaksin dibawah kulit, biasanya di area sekitar leher. Cara pelaksanaan vaksinasi subcutan adalah sebagai berikut :
·         Kocok vaksin dengan hati-hati sehingga tercampur merata.
·         Ayam dipegang dan kulit bagian pertengahan belakang leher diangkat.
·         Jarum penyuntik disuntikkan sari arah kepala menuju arah tubuh

5.      Faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi
a)      Faktor tata laksana
·         Cara vaksinasi
·         Waktu vaksinasi
·         Keterampilan vaksinator
·         Kondisi lingkungan
b)      Faktor vaksin
·         Kualitas vaksin
·         Jenis vaksin
·         Cara penyimpanan vaksin
c)      Faktor individu
·         Kesehatan ayam

3.   Pemeliharaan Ayam Broiler
Nama Industri                         : Farm SMK Negeri I Jantho
Tanggal masuk DOC  : Selasa, 11 Agustus 2015
Strain / Jenis DOC      : MB – 02
Jumlah DOC               : 102 ekor
Bobot awal DOC        : 46 gram

RECORDING MINGGU I
Hari / Tanggal
Bobot DOC
Mortalitas
Pakan
VOVD
Ket
Selasa, 11 Agustus 2015
46 gram
3 ekor
5-11 Hi-Provite     800 gram
Air Gula, Vita Chick

Rabu, 12 Agustus 2015
60 gram
 -
5-11 Hi-Provite
900 gram
Vita Chick

Kamis, 13 Agustus 2015
76 gram
-
5-11 Hi-Provite
Secara ad-libitum
-

Jum’at, 14 Agustus 2015
102 gram
-
5-11 Hi-Provite Secara ad-libitum
Vaksin  ND-Lived dan Vita Chick
Dosis vaksin 0,03 mL melalui tetes mata

Sabtu, 15 Agusuts 2015
124 gram
-
5-11 Hi-Provite Secara ad-libitum
Vita chick
1 tempat minum vita chick dan 1 tempat minum air putih
Minggu, 16 Agustus 2015
140 gram
-
5-11 Hi-Provite Secara ad-libitum
Vita chick

Senin, 17 Agustus 2015
165 gram
-
5-11 Hi-Provite Secara ad-libitum


Jumlah
713 gram
102-3 = 99
25 kg




RECORDING MINGGU 2
Hari / Tanggal
Bobot DOC
Mortalitas
Pakan
VOVD
Ket
Selasa, 18 Agustus 2015
198 gram
-
5-11 Hi-Provite 800 gram



Rabu, 19 Agustus 2015
230 gram
 1 ekor
5-11 Hi-Provite
900 gram
Vita Chick

Kamis, 20 Agustus 2015
260 gram
-
5-11 Hi-Provite
Secara ad-libitum


Jum’at, 21 Agustus 2015
292 gram
-
5-11 Hi-Provite Secara ad-libitum
Sari daun pepaya

Sabtu, 22 Agustus 2015
306 gram
-
5-11 Hi-Provite Secara ad-libitum
Sari daun pepaya

Minggu, 23 Agustus 2015
333 gram
-
5-11 Hi-Provite Secara ad-libitum


Senin, 24 Agustus 2015
420 gram
1 ekor
5-11 Hi-Provite Secara ad-libitum
Vita Chick

Jumlah
2093 gram
99-2 = 97





RECORDING MINGGU 3
Hari / Tanggal
Bobot DOC
Mortalitas
Pakan
VOVD
Ket
Selasa, 25 Agustus 2015
480 gram
-
5-11 Hi-Provite
Secara ad-libitum


Rabu, 26 Agustus 2015
540 gram
-
 5-11 Hi-Provite
Secara ad-libitum


Kamis, 27 Agustus 2015
610 gram
-
5-11 Hi-Provite
Secara ad-libitum
Vita Chick

Jum’at, 28 Agustus 2015
700 gram
-
5-11 Hi-Provite Secara ad-libitum


Sabtu, 29 Agustus 2015
796 gram
-
5-11 Hi-Provite Secara ad-libitum


Minggu, 30 Agustus 2015
 862 gram
-
5-11 Hi-Provite Secara ad-libitum
Vita Chick
-
Senin, 31 Agustus 2015
 920 gram

5-11 VIVO Secara ad-libitum
Tetra- chlor

Jumlah
4908 gram
97
70 kg




RECORDING MINGGU 4
Hari / Tanggal
Bobot DOC
Mortalitas
Pakan
VOVD
Ket
Selasa,  1 September 2015
1012 gram
-
5-11 VIVO Secara ad-libitum
Tetra-chlor

Rabu,  2 September 2015
1060 gram
2 ekor (beli)
 5-11 VIVO Secara ad-libitum

Sari daun pepaya

Kamis, 3 September 2015
1156 gram
-
5-11 VIVO Secara ad-libitum
-

Jum’at, 4 September 2015
1216 gram
5 ekor
5-11 VIVO Secara ad-libitum
 -

Sabtu, 5 September 2015
1270 gram
-
5-11 VIVO Secara ad-libitum
-

Minggu, 6 September 2015
1472 gram
-
5-11 VIVO Secara ad-libitum
-
-
Senin, 7 September 2015
1580 gram

5-11 VIVO Secara ad-libitum
-

Total
8766 gram
97-5 = 92
80 Kg




RECORDING MINGGU 5
Hari / Tanggal
Bobot DOC
Mortalitas
Pakan
VOVD
Ket
Selasa,  8 September 2015
1720 gram
-
5-11 VIVO Secara ad-libitum


Rabu, 9 September 2015
1800 gram
1 ekor
 5-11 VIVO Secara ad-libitum



Kamis, 10 September 2015
1850 gram
-
5-11 VIVO Secara ad-libitum
Sari daun pepaya

Jum’at, 11 September 2015
1968 gram
-
5-11 VIVO Secara ad-libitum
 -

Sabtu,  12 September 2015
2050 gram
-
5-11 VIVO Secara ad-libitum
-

Minggu, 13 September 2015
2123 gram
1 ekor
5-11 VIVO Secara ad-libitum
-
-
Senin, 14 September 2015
2289 gram
-
5-11 VIVO Secara ad-libitum
-

Total
13800 gram
90-2=88 e
78 Kg




Untuk hasil keseluruhannya adalah sebagai berikut
Mortalitas        = 2,94 + 2,02 + 5,15 + 2,22 = 12,33 %
PBB                = 119 + 222 + 440 + 568 + 569 = 1918 gram
Feed Intake     = 202 + 309 + 721 + 880 + 880 = 2992 gram

4.   Pemanenan Ayam 
            Pemanenan merupakan salah satu tahapan untuk menentukan kualitas produksi. Pemanenan harus dilakukan dengan benar sehinggas ayam tetap hidup, tidak mengalami stress serta tidak cedera.
            Sebelum melakukan pemanenan, hentikan pemberian obat-obatan dan antibiotik 5-14 hari sebelum panen. Hal ini bertujuan agar ayam  bebas dari sisa / residu bahan kimia pada saat dikonsumsi oleh konsumen. Karena dikhawatirkan akan menimbulkan efek samping pada konsumen.
4.1   Faktor yang mempengaruhi penentuan waktu pemanen
a)      Bobot Badan  : Target bobot badan saat dipanen biasanya memperhatikan permintaan konsumen. Pada suatu daerah, terkadang bisa mencapai bobot badan atau malah berkurang dari standar.
b)     Lama pemeliharaan : Lama pemeliharaan ayam pedaging adalah 5 minggu. Pada umur ini pertumbuhan ayam mencapai optimal sehingga panen bisa dilakukan pada masa tersebut.
c)      Harga jual      : ketidakstabilan harga jual ayam sangat perlu diperhatikan dalam menentukan waktu pemanenan. Bila harga jual ayam rendah dapat dipertimbangkan kemungkinan memperpanjang waktu pemeliharaan sampai batas tertentu. Tetapi, apabila harga tinggi lebih baik mempersingkat waktu pemeliharaan tanpa mempertimbangkan bobot badan dan umur ayam.
d)     Kesehatan ayam        : Terjangkitnya penyakit membuat peternak dapat mengambil langkah untuk memanen dan menjual ayam baik sebagian atau seluruhnya. Hal ini dilakukan tanpa mempertimbangkan umur, bobot badan dan harga jual.

4.2   Peralatan pemanenen
Ø  Penyekat
Ø  Tali rafia
Ø  Krat
Ø  Timbangan
Ø  Alat tulis
Ø  Kendaraan pengangkut

4.3   Tahapan Pemanenan
a)      Mengeluarkan semua peralatan kandang (tempat pakan dan tempat minum).
b)      Menyekat kandang dengan kawat sekat.
c)      Menangkap ayam dengan benar.
d)     Menimbang ayam.
e)      Mencatat hasil penimbangan.
f)       Memasukkan ayam kedalam krat (keramba).

6.      Pemasaran
Akhir dari masa pemeliharaan ayam broiler akan bermuara pada pemasaran. Tahap pemasaran ini tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan suatu usaha. Pemasaran yang baik adalah yang tepat waktu, memakan waktu yang sesingkat-singkatnya dan dengan harga jual yang relatif tinggi.
Tanpa pemasaran yang baik, ayam dapat tertunda penjualannya dan terjadi pemborosan dalam penggunaan pakan. Kejadian harga jatuh karena kelebihan produksi adalah cermin ketidakberesan dalam pemasaran. Sebaliknya dengan pemasaran yang baik, seorang peternak dapat mendapatkan hasil usahanya dengan optimal (Suharno, 1997).
Para peternak biasanya tidak langsung menjual ayamnya ke pasar atau memotong sendiri, melainkan menjualnya ke perusahaan inti ataupun kelompok peternak. Perusahaan inti ataupun kelompok peternak ini berfungsi sebagai pengumpul. Mereka yang akan memasarkan ayam ke pangkalan ayam. Tempat ini umumnya berada di pasar tradisional atau dekat dengan pasar tradisional (Suharno, 1997)

6.1      Strategi pemasaran
Strategi pemasaran merupakan hal yang sangat penting. Strategi pemasaran ini dipengaruhi oleh faktor-faktor  sebagai berikut :
1)      Faktor mikro, yaitu perantara pemasaran, pemasok, pesaing dan masyarakat.
2)      Faktor makro, yaiitu demografi/ekonomi, politik/hukum, teknologi/fisik dan sosial/budaya.
Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan untuk pemasaran dari sudut pandang penjual :
1)      Tempat yang strategis (place)
2)      Produk yang bermutu (produt)
3)      Harga yang kompetitif (price)
4)      Promosi yang gencar
Dari sudut pandang konsumen :
1)      Kebutuhan dan keinginan konsumen (costomer needs and wants)
2)      Biaya konsumen (cost to the customer)  
3)      Kenyamanan (convenience)
4)      Komunikasi (comunication)
6.   Analisa Usaha
a)      Pengeluaran
No
Uraian
Harga
Volume
Biaya
1
DOC
Rp. 4000
100 ekor
Rp.400.000
2
Pakan 5-11 polos
Rp. 397.000
3 sak
Rp. 1.191.000
3
Pakan 5-11 Bravo
Rp. 358.000
2 sak
Rp. 716.000
4
5 botol vaksin + dapar
Rp. 11.000

Rp.11.000
5
Vitastress 50 gr
Rp.6.000
1 bungkus
Rp.6.000
6
Transportasi
Rp.150.000

Rp.150.000
7
Bola Lampu
Rp.9.000
2 buah
Rp.18.000
8
Pakan
Rp.8.000
28 Kg
Rp.224.000
9
Plastik
Rp.16.000
1 pak
Rp.16.000
10
Bensin
Rp.20.000

Rp.20.000
11
Minyak tanah
Rp.10.000
1 liter
Rp.10.000
Total Pengeluaran
Rp.2.762.000

b)     Pendapatan
Ayam yang dijual 73 ekor x Rp.40.000 = Rp.2.920.000
c)       Keuntungan  = Pendapatan Pengeluaran
                                    = Rp.2.920.000  Rp.2.762.000
                                    = Rp.158.000
d)     R/C Ratio       = Pendapatan / Pengeluaran
= Rp.2.920.000/ Rp.2.762.000
= 1,05
e)      B/C Ratio       = Total keuntungan / Total pengeluaran
= Rp.158.000/Rp.2.762.000
= 0,057
f)       Keuntungan / ekor    = Keuntungan/Jumlah ayam
= Rp.158.000/73 ekor
= Rp.2.164
g)      BEP Harga    = Total biaya produksi/Total produksi
= Rp.2.762.000/73 ekor
= Rp.37.835
h)      BEP Produksi            = Total biaya produksi/harga jual
= Rp.2.762.000/Rp.40.000
= 69,05




BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    KESIMPULAN
1)      Untuk mencapai hasil produksi yang maksimal, peternak harus menggunakan management yang baik, bibit unggul, serta pakan yang berkualitas.
2)      Pemberian pakan dan minum dilakukan secara ad libithum,sehingga ayam tidak akan kekurangan pakan dan minum.
3)      Vaksinansi dilakukan agar ayam dapat terhindar dari berbagai penyakit yang mungkin akan menyerang ayam tersebut.
4)      Mengidentifikasi penyakit sangat perlu dilakukan agar mempermudah dalam pengobatan.
5)      Untuk mengatasi naik turunnya harga, peternak harus memiliki kepandaian dan kejelian untuk memantau situasi pasar.

B.     SARAN
1)      Diusahakan ternak unggas yang dipelihara lebih bervariasi, tidak hanya ayam broiler saja.
2)      Jumlah ternak yang dipelihara lebih ditingkatkan dan disesuaikan dengan jumlah siswa yang melaksanakan prakerin di Farm SMK Negeri I Kota Jantho
3)      Bangunan kandang dan konstruksinya harus diperbaiki, serta keamanan kandang harus ditingkatkan agar predator tidak dapat masuk ke dalam kandang sehingga dapat meminimalisir penyebaran penyakit.
4)      Pagar kandang sebaiknya di buat lebih kokoh dan lebih baik, sehingga hewan dari luar kandang tidak dapat masuk sehingga siswa dapat memanfaatkan pekarangan di sekitar kandang untuk menanam sayur-sayuran.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

makalah farmakologi II Antiseptik

Clostridium tetani

Clostridial infection