laporan prakerin jurusan Agribisnis ternak unggas (REVISI)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR
BELAKANG
PRAKERIN
(Praktek Kerja Industri) adalah kegiatan pendidikan, pelatihan dan pembelajaran
yang dilaksanakan di dunia usaha atau dunia industri dalam upaya pendekatan
ataupun untuk meningkatkan mutu siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
dengan kompetensi (kemampuan) siswa sesuai bidangnya dan juga menambah bekal
untuk masa-masa mendatang guna memasuki dunia kerja yang semakin banyak serta
ketat dalam persaingannya seperti di masa sekarang ini.
Dalam
pelaksanaannya dilakukan dengan prosedur tertentu, bagi siswa yang bertujuan
untuk magang disuatu tempat kerja, baik dunia usaha maupun di dunia industri
setidaknya sudah memiliki kemampuan dasar sesuai bidang yang digelutinya atau
sudah mendapatkan bekal dari pembimbing disekolah untuk memiliki ilmu-ilmu
dasar yang akan diterapkan dalam dunia usaha atau dunia industri. Alasan utama
mengapa para siswa-siswi harus memiliki bekal ilmu pengetahuan dasar sesuai
bidangnya agar dalam pelaksanaan Praktek Kerja Industri tidak mengalami kendala
dalam penerapan ilmu pengetahuan dasar yang kemungkinan besar dalam proses
praktek kerja industri mendapatkan ilmu-ilmu baru yang tidak diajarkan di
Lembaga Kejuruan terkait.
Dalam
pelaksanaan Praktek Kerja Industri ini diharapkan setiap siswa-siswi mampu
mengikuti kegiatan kerja serta memahami kegiatan kerja yang dilakukan di dunia
usaha ataupun di dunia industri agar siswa-siswi tersebut dapat mencapai serta
mendapatkan sesuatu yang baik dan berguna bagi dirinya serta agar siswa- siswi
tersebut mampu menunjukan kinerjanya secara maksimal apa yang telah dilakukannya
selama berada di dunia usaha atau dunia industri sehingga mampu membuat dirinya
diperhitungkan di dunia usaha atau dunia industri. Prakerin memberikan dan
sekaligus mengajarkan kepada anak didik akan dan bagaimana kehidupan di dunia
kerja. disamping ajang uji coba ilmu yang ia pelajari. melalui prakerin siswa
diharapkan mampu memahami tentang bagaimana tata dan aturan di dunia
industri/usaha, sehingga ketika ia nantinya tamat ia sudah benar-benar siap
bekerja baik secara keilmuan maupun secara kejiwaan dan mental.
1.2
TUJUAN DAN
MANFAAT
Tujuan Praktek Kerja Industri
1.
Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian
profesional dengan tingkat pengetahuan dan etos kerja yang sesuai dengan
tuntutan lapangan kerja.
2.
Memperkokoh Link and Match antara dunia pendidikan
dengan dunia kerja.
3.
Memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap
pengalaman kerja sebagai bagian proses pendidikan.
4.
Membekali siswa dengan pengalaman-pengalaman yang
sebenarnya di dalam dunia kerja, sebagai persiapan guna menyesuaikan diri
dengan dunia kerja dan masyarakat.
5.
Siswa dapat meningkatkan rasa percaya dirinya, dalam
memecahkan berbagai masalah atau kesulitan yang ditemuinya.
6.
Untuk merealisasikan pengetahuan yang di dapat dari
sekolah dengan pekerjaan yang sebenarnya di industri.
Manfaat Praktek Kerja Industri
1.
Keahlian profesional yang diperoleh dari praktek kerja
lapangan, dapat meningkatkan rasa percaya diri, yang selanjutnya akan mendorong
untuk meningkatkan keahlian profesional pada tingkat yang lebih tinggi.
2.
Waktu tempuh untuk mencapai keahlian profesional
menjadi lebih singkat. Setelah lulus sekolah dengan praktek kerja lapangan,
tidak memerlukan lagi waktu latihan lanjutan untuk mencapai tingkat keahlian siap
pakai.
3.
Melatih disiplin, tanggung jawab, inisiatif,
kreatifitas, motivasi kerja, kerjasama, tingkah laku, emosi dan etika.
1.3 WAKTU DAN
TEMPAT
Pelaksanaan
Praktek Kerja Industri ini dilaksanakan pada tanggal 28 juli 2015 – 28 oktober
2015 di Farm SMK Negeri I Jantho.
1.4
PEMBIMBING
Pembimbing pada Praktek Kerja Indutri ini adalah Ibu Ismeini, SP.
BAB II
TINJAUAN
UMUM INDUSTRI
2.1 SEJARAH
SINGKAT
Farm
SMK Negeri I jantho, didirikan pada tahun yang sama dengan berdirinya SMK Negeri I jantho, yaitu pada tahun 2000,
mengingat jurusan
agribisnis ternak unggas adalah jurusan tertua di SMK ini, pada dulunya
farm SMK Jantho menjalankan usaha peternakan ruminansia serta unggas namun
seiring berjalannya waktu dan dikarenakan adanya sesuatu hal, usaha farm SMK
jantho sempat vakum untuk beberapa tahun.
Dan
pada awal tahun 2009 Farm SMK Jantho kembali bangkit dan Usaha yang dijalankan
di Farm SMK Jantho adalah peternakan ayam broiler (pedaging) dan ayam Layer
(petelur) dan untuk ruang lingkup pemasaran di Farm SMK Jantho yaitu pasar
jantho dan individual yang langsung datang ke Farm SMK Jantho untuk membeli
hasil dari Farm SMK Negeri Jantho.
Berdirinya
Farm SMK Jantho bertujuan untuk menunjang proses belajar mengajar siswa di SMK
Negeri I jantho, lebih tepatnya siswa Jurusan Agribisnis Ternak Unggas, dan juga
selain daripada itu, untuk melatih siswa agar lebih mengetahui seluk beluk
dalam dunia usaha atau dunia industri
2.2 STRUKTUR ORGANISASI
·
Struktur
Organisasi SMK Negeri I Kota Jantho
Kepala SMK Negeri I KotaJantho
|
Drs.
Khairuddin
|
Waka
Kesiswaan
|
Elizar,
S.Pd
|
Waka
Kurikulum
|
Agustina,
S.Pd
|
Waka
Sarana
|
Budiman,
S.Pd
|
Waka
Humas / Hubmi
|
Detsi
Marlina, S.Pt, M.Pd
|
Kepala Kompetensi Kejuruan
|
Agribisnis
Ternak Unggas
|
Ismeini,
SP
|
Teknik
Mesin
|
Bustamin,
ST
|
Teknik
Otomotif
|
Muhammad
Yusuf, ST, MT
|
Teknik
Komputer Jaringan
|
Mauluddin,
S.Pd
|
Busana
Butik
|
Ruwaida,
S.Pd
|
·
Struktur
Organisasi Jurusan Agribisnis Ternak Unggas
Kepala
Kompetensi Keahlian
|
Ismeini,
SP
|
Kepala
Laboratorium
|
Hasnawati,
S.Pt, MP
|
Bendahara
|
Detsi
Marlina, S.Pt, M.Pd
|
Wali
Kelas
|
Kelas
X
|
Ir.
Rusmiati
|
Kelas
XI
|
Hasnawati,
S.Pt, MP
|
Kelas
XII
|
Ir.
Siti Jamaliah
|
2.3 PERATURAN
DAN TATA TERTIB
1.
Mematuhi peraturan yang berlaku dalam industri
2.
Waktu kerja dimulai dari pukul 08.00 – 17.00 WIB
3.
Mengenakan pakaian seragam praktek pada saat prakerin
4.
Berlaku sopan serta jujur, bertanggung jawab dan
kreatif terhadap tugas-tugas yang diberikan dalam kegiatan praktek
5.
Memberitahu apabila berhalangan hadir atau bermaksud
untuk meninggalkan tempat prakerin
6.
Mentaati peraturan dalam penggunaan alat dan bahan
yang dipakai dalam prakerin
7.
Membersihkan dan mengatur kembali peralatan dengan
rapi seperti semula setelah meninggalkan tempat prakerin
8.
Harus mematuhi kesehatan dan keselamatan kerja (K3)
BAB III
TINJAUAN KHUSUS
3.1 MATERI
1. PERKANDANGAN
Perkandangan
merupakan segala aspek fisik yang berkaitan dengan kandang dan sarana maupun
prasarana yang bersifat sebagai penunjang kelengkapan dalam suatu peternakan.
Kandang
merupakan unsur penting dalam usaha peternakan ayam. Kandang dipergunakan mulai
dari awal hingga masa berproduksi. Pada prinsipnya, kandang yang baik adalah
kandang yang sederhana, biaya pembuatan murah, dan memenuhi persyaratan teknis
(Martono, 1996).
Secara umum kandang berfungsi untuk
menghindari ternak dari terik matahari, hujan, angin kencang secara langsung,
menghindari ternak membuang kotoran sembarangan, mempermudah dalam pengelolaan
dan pengawasan terhadap penggunaan pakan, pertumbuhan, dan gejala penyakit,
menjaga kehangatan ternak saat malam hari atau musim dingin, serta gangguan
binatang buas dan pencuri (Sudarmono, 2011).
Tipe
kandang ayam ras pedaging ada dua, yaitu bentuk panggung dan tanpa panggung
(litter). Tipe panggung memiliki lantai kandang lebih bersih karena kotoran
langsung jatuh ke tanah, tidak memerlukan alas kandang sehingga pengelolaan
lebih efisien, tetapi biaya pembuatan kandang lebih besar. Tipe litter lebih banyak
dipakai peternak, karena lebih mudah dibuat dan lebih murah (Anonimous, 2008).
1.1
Syarat Kandang
Adapun
syarat kandang yang baik agar social walfare ayam terjaga adalah :
1.
Dinding kandang dapat terbuat dari papan, bilah bambu,
ram kawat, dinding kandang tidak boleh terlalu rapat atau terlalu jarang, hal
ini dimaksudkan untuk keleluasaan sirkulasi udara kandang, dan tidak boleh
terlalu jarang agar predator tidak dapat
masuk ke dalam kandang
2.
Arah kandang sebaiknya membujur dari timur-barat. Hal
ini dimaksudkan agar ayam tidak terlalu kepanasan, tetapi pada pagi hari masih
dapat memperoleh sinar matahari
3.
Tinggi tiang tengah keatap minimal 6-7 meter dan tiang
tepi minimal 2,5-3 meter, hal ini
berhubungan dengan sirkulasi udara dalam kandang, lebar kandang maksimal 6-8
meter
4.
Atap kandang dirancang sesuai dengan fungsinya yaitu
melindungi bangunan beserta isinya dari hujan, panas matahari dan angin
5.
Lantai kandang sebaiknya di semen kasar sehingga mudah
dibersihkan dan akan mengurangi bahaya penyakit cocsidiosis
1.2
Pemilihan Lokasi Kandang
Lokasi kandang yang baik adalah :
·
Dekat dengan sumber air
·
Jauh dari pemukiman masyarakat
·
Sarana transportasi mudah terjangkau
·
Dibangun ditempat yang datar untuk memudahkan
pembangunan dengan konstruksi sederhana
·
Tekstur tanah dan struktur tanah tempat kandang harus
padat, tetapi mudah diserap air sehingga bila hujan tidak terjadi genangan
·
Sirkulasi udara lancar
1.3
Kepadatan Kandang
Salah satu
faktor yang sangat mempengaruhi daya tampung kandang adalah umur ayam yang
menempati kandang tersebut. Semakin besar umur maka jumlah ayam yang mampu
ditampung dalam suatu luas kandang akan semakin menurun, seperti terlihat pada
tabel
Umur Ayam
|
Kepadatan kandang (ekor/m2)
|
Minggu ke-1
Minggu ke-2
Minggu ke-3
Minggu ke-4
Minggu ke-5
|
50 – 40 ekor/m2
40 – 30 ekor/m2
30 – 20 ekor/m2
20 – 10 ekor/m2
10 – 8
ekor/m2
|
1.4
Sanitasi
Kandang Dan Lingkungan
Sanitasi
adalah upaya pencegahan terhadap kemungkinan berkembangbiaknya mikroba pembusuk
dan pathogen dalam makanan, minuman, peralatan dan bangunan yang dapat merusak
pangan asal hewan dan membahayakan kesehatan manusia (Marriot, 1999).
Secara umum
sanitasi adalah usaha pencegahan penyakit dengan cara
menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan
perpindahan penyakit tersebut. Sedangkan, desinfeksi adalah
menghancurkan/membunuh mikro organisme patogen penyebab penyakit dengan bahan
kimia atau secara fisik pada lingkungan, kandang dan peralatannya.
Tahap
– Tahap sanitasi kandang
1. Mengeluarkan
semua tempat pakan dan tempat minum dari kandang
2. Pembersihan
kotoran dan sekam (litter)
3. Menyapu
kandang
4. Pemasangan
tirai serta memperbaiki kandang jika ada bagian yang rusak
5. Mencuci
tempat pakan dan tempat minum
6. Pencucian
kandang dengan air bersih
7. Pencucian
kandang dengan deterjen
8. Penyemprotan
dengan desinfektan
9. Pengapuran
kandang
10. Kandang
di istirahatkan (dikosongkan) selama 2 minggu
Adapun
tujuan dari pengosongan ini adalah untuk memutuskan siklus penyakit produksi
sebelumnya ke masa produksi berikutnya ( Rasyaf, 1995 )
Selain
dari kegiatan sanitasi dan desinfeksi, dapat juga dilakukan kegiatan fumigasi
yang bertujuan untuk membunuh atau mematikan semua bibit-bibit penyakit yang
masih tersisa didalam kandang.
Fumigasi
adalah pensucihamaan dengan menggunakan gas formaldehida. Gas formaldehida
adalah campuran dari Formalin dan Kalium permanganat (KMnO4)
Dosis
formalin banding KMnO4 adalah 2 : 1
Dosis
fumigan untuk ruangan sebesar 2,83 m2
Kekuatan
|
Formalin (cc)
|
KMnO4 (gram)
|
1 kali
2
kali
3
kali
4
kali
5
kali
|
40
80
120
160
200
|
20
40
60
80
100
|
Cara Fumigasi:
- Sebagai persiapan, seluruh ruang harus ditutup terlebih dahulu dengan plastik.
- Ditengah-tengah ruang disediakan wadah, yang terbuat dari tanah liat atau kaca.
- Selanjutnya KMnO4 yang berbentuk tepung dimasukan ke dalam wadah yang tersedia, kemudian siramkan formalin kedlamnya sesuai dosis yang di inginkan. Segera berlari ke luar ruangan, asap akan segera menyebar.
- Biarkan gas formaldehida yang terbentuk dari reaksi kimia dari kedua unsur tadi habis menguap. Sifat gas formaldehida dapat membunuh kuman penyakit dengan cepat, dan gas tersebut dapat mencapai celah-celah kecil yang lebih dalam yang mungkin tidak terjangkau pada waktu dibersihkan. Tetapi karena gas ini beracun, harus ekstra berhati - hati.
2. PENERIMAAN DOC
2.1 Brooding Ring
Menghitung luas brooding ring untuk 100 ekor DOC
m
1,95 m2
2.2 Menimbang bobot rata-rata DOC
Rumus :
atau diambil 10 % sampel dari populasi
atau diambil 10 % sampel dari populasi
2.3 Seleksi
DOC
Seleksi anak ayam yang baru menetas merupakan pemisahan antara anak ayam
dengan kualitas baik dan yang tidak baik, untuk selanjutnya anak ayam yang
tidak baik akan diafkir (Suprijatna et al., 2005). Seleksi juga dapat
didefinisikan yaitu memilih ayam yang kualitasnya memenuhi standar dari
kelompoknya yang meliputi kesehatan, aktifitas, warna bulu dan performa (AAK, 1991). Tujuan
seleksi agar mendapatkan ternak yang sehat dan mampu berpro-duksi tinggi
Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan atau dipenuhi syaratnya untuk DOC yang akan dipelihara
a) DOC harus
sehat, karena jika tidak sehat maka akan menjadi penyebar penyakit
b) Tidak cacat,
karena apabila cacat kemungkinan kematian tinggi dan pemeliharaannya sulit
c) Warna bulu
seragam, apabila ada yang berbeda maka kemungkinan besar darahnya sudah tidak
murni lagi sehingga pertumbuhannya juga bervariasi
d) Berat badan
anak ayam yang dihasilkan biasanya berkisar antara 32,5 - 42,5 gram/ekor (ayam ras)
dianggap sudah baik
e)
Berasal dari induk yang sehat
f) Menetas tepat
waktu
g) DOC memiliki
kaki yang berminyak, berkilap (tidak kering)
h) DOC
mempunyai mata yang cerah, bercahaya, aktif dan tampak segar
i)
Pada bagian perut DOC tidak mengeras
j)
Pusar kering dan tidak menghitam (bad navel) bulu
lengkap menutup tubuh serta tidak ada feses pada dubur
2.4 Sexing
Sexing adalah memisahkan/memilih
antara ayam jantan dan betina. Biasanya dilakukan dengan metode buka kloaka,
perbedaan warna bulu, dan perbedaan panjang bulu sayap (Suprijatna et al., 2005).
). Menurut Nuryati dan Sutarto (2000), “sexing” dengan melihat perbedaan warna bulu disebabkan adanya
sifat-sifat tertentu yang terkait dengan kromosom yang berhubungan dengan jenis
kelamin. Sexing dengan perbedaan bulu sayap
biasanya dilakukan pada ayam yang pertumbuhan bulunya cepat dengan melihat bulu
sayap runcing pada ayam betina dan pada jantan bulu sayap tidak runcing.
Feather Sexing bertujuan untuk
mengetahui jenis kelamin dari DOC dengan melihat pertumbuhan bulu sayap.
Ditemukan pada tahun 1969 setelah tiga tahun penelitian genetik intensif oleh
Tegeis Poultry Breeding Company, yang mengembangkan strain ayam broiler yang
bisa dibedakan berdasarkan bulu (Feather Sexed). Ayam Broiler tersebut adalah
dengan strain yang akan menghasilkan bulu lambat pada jantan dan pada betina
tumbuh cepat
Perbedaan
kecepatan tumbuh bulu sayap primer disebabkan oleh gen yang terletak pada
kromosom kelamin induk ayam betina dan induk ayam jantan. Dimana ada bulu-bulu
yang cepat tumbuh dan bulu yang lambat tumbuh
DOC Jantan : Bulu penutup / bulu sayap atas ( coverts
) sama panjang atau lebih panjang daripada bulu sayap primer (primary)
DOC Betina : Bulu penutup / bulu sayap atas ( coverts
) lebih pendek daripada bulu sayap primer (primary)
Dari hasil yang kami lakukan didapat :
·
Jantan = 62 ekor
·
Betina = 37 ekor
2.5 Vaksinasi
1.
Pengertian
vaksin
Vaksinasi adalah suatu usaha untuk memberikan kekebalan pada ayam, agar ayam tersebut
kebal terhadap serangan suatu penyakit (Murtidjo, 1992) . Menurut Suprijatna et all (2005)
vaksinasi didefinisikan sebagai suatu kegiatan memasukkan bibit penyakit
(mikroorganisme) tertentu yang telah dilemahkan ke dalam tubuh ternak dalam
rangka menumbuhkan kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu tersebut.
2.
Tujuan
Vaksinasi
1)
Membuat ayam mempunyai kekabalan yang tinggi terhadap
suatu penyakit tertentu.
2)
Untuk meningkatkan daya tahan tubuh ayam terhadap
penyakit tertentu.
3)
Untuk mengurangi kemungkinan serangan penyakit
tertentu.
4)
Untuk mencegah terjangkitnya suatu penyakit sesuai
dengan vaksin yang diberikan.
5)
Untuk meningkatkan kesehatan ternak ayam.
3.
Jenis Vaksin
Vaksin
terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :
1) Vaksin Live
(vaksin aktif) yaitu vaksin yang berisi mikroorganisme penyakit yang masih
hidup tetapi sudah dilemahkan. Biasanya vaksin aktif berbentuk
sediaan kering beku. Vaksin aktif disimpan pada suhu 2-8 ºC. Vaksin aktif harus
segera dipakai dalam jangka waktu dua jam setelah dilarutkan.
2) Vaksin
Killed (vaksin inaktif) yaitu vaksin yang berisi mikroorganisme penyakit yang
sudah mati tetapi masih bersifat immunogenic. Vaksin inaktif
harus disimpan pada suhu 8 ºC dan tidak boleh disimpan di freezer, karena
vaksin akan rusak.
4.
Cara
melaksanakan vaksinasi
1) Metode tetes mata (Intra-Ocular)
Vaksinasi tetes mata dilakukan
dengan cara meneteskan vaksin ke mata ayam. Cara pelaksanaannya sebagai berikut
:
·
Larutan dapar dituangkan kedalam botol vaksin sehingga
berisi 2/3 bagian dari botol tersebut, kemudian ditutup lalu dikocok sampai
rata, usahakan jangan sampai berbuih.
·
Larutan vaksin dituangkan kembali kedalam botol yang
masih berisi sisia larutan, kemudian ditutup dan lalu dikocok sampai merata.
·
Penutup dengan penetesnya digunakan untuk vaksinasi
melalui tetes mata, satu tetes untuk satu ekor ayam, ayam baru dilepas jika
mata sudah dikejapkan sehingga vaksin masuk dengan sempurna.
2) Suntik daging (Intramuscular)
Vaksinasi suntik daging dilaksanakan
dengan cara menyuntikkan vaksin kedalam daging. Biasanya penyuntikan dilakukan
dibagian dada dan paha. Adapun cara
pelaksanaan vaksinasinya sebagai berikut :
·
Sebelum digunakan, kocok vaksin secara hati-hati
hingga tercampur merata.
·
Suntikkan vaksin kedaging dengan dosis sesuai anjuran.
·
Semua peralatan yang digunakan harus steril, baik
ketika melakukan vaksinasi maupun setelah digunakan.
3) Suntik bawah kulit (subcutan)
Vaksinasi suntik dibawah kulit
dilaksanakan dengan cara menyuntikkan vaksin dibawah kulit, biasanya di area
sekitar leher. Cara pelaksanaan vaksinasi subcutan adalah sebagai berikut :
·
Kocok vaksin dengan hati-hati sehingga tercampur
merata.
·
Ayam dipegang dan kulit bagian pertengahan belakang
leher diangkat.
·
Jarum penyuntik disuntikkan sari arah kepala menuju
arah tubuh
5.
Faktor –
faktor yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi
a)
Faktor tata laksana
·
Cara vaksinasi
·
Waktu vaksinasi
·
Keterampilan vaksinator
·
Kondisi lingkungan
b)
Faktor vaksin
·
Kualitas vaksin
·
Jenis vaksin
·
Cara penyimpanan vaksin
c)
Faktor individu
·
Kesehatan ayam
3. Pemeliharaan Ayam Broiler
Nama Industri : Farm SMK Negeri I
Jantho
Tanggal masuk DOC : Selasa, 11 Agustus 2015
Strain / Jenis DOC : MB – 02
Jumlah DOC : 102 ekor
Bobot awal DOC : 46 gram
RECORDING
MINGGU I
Hari
/ Tanggal
|
Bobot
DOC
|
Mortalitas
|
Pakan
|
VOVD
|
Ket
|
Selasa,
11 Agustus 2015
|
46
gram
|
3
ekor
|
5-11
Hi-Provite 800 gram
|
Air
Gula, Vita Chick
|
|
Rabu,
12 Agustus 2015
|
60
gram
|
-
|
5-11
Hi-Provite
900
gram
|
Vita
Chick
|
|
Kamis,
13 Agustus 2015
|
76
gram
|
-
|
5-11
Hi-Provite
Secara
ad-libitum
|
-
|
|
Jum’at,
14 Agustus 2015
|
102
gram
|
-
|
5-11
Hi-Provite Secara ad-libitum
|
Vaksin ND-Lived dan Vita Chick
|
Dosis
vaksin 0,03 mL melalui tetes mata
|
Sabtu,
15 Agusuts 2015
|
124
gram
|
-
|
5-11
Hi-Provite Secara ad-libitum
|
Vita
chick
|
1
tempat minum vita chick dan 1 tempat minum air putih
|
Minggu,
16 Agustus 2015
|
140
gram
|
-
|
5-11
Hi-Provite Secara ad-libitum
|
Vita
chick
|
|
Senin,
17 Agustus 2015
|
165
gram
|
-
|
5-11
Hi-Provite Secara ad-libitum
|
|
|
Jumlah
|
713
gram
|
102-3
= 99
|
25
kg
|
|
|
RECORDING
MINGGU 2
Hari
/ Tanggal
|
Bobot
DOC
|
Mortalitas
|
Pakan
|
VOVD
|
Ket
|
Selasa,
18 Agustus 2015
|
198
gram
|
-
|
5-11
Hi-Provite 800 gram
|
|
|
Rabu,
19 Agustus 2015
|
230
gram
|
1 ekor
|
5-11
Hi-Provite
900
gram
|
Vita
Chick
|
|
Kamis,
20 Agustus 2015
|
260
gram
|
-
|
5-11
Hi-Provite
Secara
ad-libitum
|
|
|
Jum’at,
21 Agustus 2015
|
292
gram
|
-
|
5-11
Hi-Provite Secara ad-libitum
|
Sari
daun pepaya
|
|
Sabtu,
22 Agustus 2015
|
306
gram
|
-
|
5-11
Hi-Provite Secara ad-libitum
|
Sari
daun pepaya
|
|
Minggu,
23 Agustus 2015
|
333
gram
|
-
|
5-11
Hi-Provite Secara ad-libitum
|
|
|
Senin,
24 Agustus 2015
|
420
gram
|
1
ekor
|
5-11
Hi-Provite Secara ad-libitum
|
Vita
Chick
|
|
Jumlah
|
2093
gram
|
99-2
= 97
|
|
|
|
RECORDING
MINGGU 3
Hari
/ Tanggal
|
Bobot
DOC
|
Mortalitas
|
Pakan
|
VOVD
|
Ket
|
Selasa,
25 Agustus 2015
|
480
gram
|
-
|
5-11
Hi-Provite
Secara
ad-libitum
|
|
|
Rabu,
26 Agustus 2015
|
540
gram
|
-
|
5-11 Hi-Provite
Secara
ad-libitum
|
|
|
Kamis,
27 Agustus 2015
|
610
gram
|
-
|
5-11
Hi-Provite
Secara
ad-libitum
|
Vita
Chick
|
|
Jum’at,
28 Agustus 2015
|
700
gram
|
-
|
5-11
Hi-Provite Secara ad-libitum
|
|
|
Sabtu,
29 Agustus 2015
|
796
gram
|
-
|
5-11
Hi-Provite Secara ad-libitum
|
|
|
Minggu,
30 Agustus 2015
|
862 gram
|
-
|
5-11
Hi-Provite Secara ad-libitum
|
Vita
Chick
|
-
|
Senin,
31 Agustus 2015
|
920 gram
|
|
5-11
VIVO Secara ad-libitum
|
Tetra-
chlor
|
|
Jumlah
|
4908
gram
|
97
|
70
kg
|
|
|
RECORDING
MINGGU 4
Hari
/ Tanggal
|
Bobot
DOC
|
Mortalitas
|
Pakan
|
VOVD
|
Ket
|
Selasa, 1 September 2015
|
1012
gram
|
-
|
5-11
VIVO Secara ad-libitum
|
Tetra-chlor
|
|
Rabu, 2 September 2015
|
1060
gram
|
2
ekor (beli)
|
5-11 VIVO Secara ad-libitum
|
Sari
daun pepaya
|
|
Kamis,
3 September 2015
|
1156
gram
|
-
|
5-11
VIVO Secara ad-libitum
|
-
|
|
Jum’at,
4 September 2015
|
1216
gram
|
5
ekor
|
5-11
VIVO Secara ad-libitum
|
-
|
|
Sabtu,
5 September 2015
|
1270
gram
|
-
|
5-11
VIVO Secara ad-libitum
|
-
|
|
Minggu,
6 September 2015
|
1472
gram
|
-
|
5-11
VIVO Secara ad-libitum
|
-
|
-
|
Senin,
7 September 2015
|
1580
gram
|
|
5-11
VIVO Secara ad-libitum
|
-
|
|
Total
|
8766
gram
|
97-5
= 92
|
80
Kg
|
|
|
RECORDING
MINGGU 5
Hari
/ Tanggal
|
Bobot
DOC
|
Mortalitas
|
Pakan
|
VOVD
|
Ket
|
Selasa, 8 September 2015
|
1720
gram
|
-
|
5-11
VIVO Secara ad-libitum
|
|
|
Rabu,
9 September 2015
|
1800
gram
|
1
ekor
|
5-11 VIVO Secara ad-libitum
|
|
|
Kamis,
10 September 2015
|
1850
gram
|
-
|
5-11
VIVO Secara ad-libitum
|
Sari
daun pepaya
|
|
Jum’at,
11 September 2015
|
1968
gram
|
-
|
5-11
VIVO Secara ad-libitum
|
-
|
|
Sabtu, 12 September 2015
|
2050
gram
|
-
|
5-11
VIVO Secara ad-libitum
|
-
|
|
Minggu,
13 September 2015
|
2123
gram
|
1
ekor
|
5-11
VIVO Secara ad-libitum
|
-
|
-
|
Senin,
14 September 2015
|
2289
gram
|
-
|
5-11
VIVO Secara ad-libitum
|
-
|
|
Total
|
13800
gram
|
90-2=88
e
|
78 Kg
|
|
|
Untuk hasil keseluruhannya adalah sebagai berikut
Mortalitas
= 2,94 + 2,02 + 5,15 + 2,22 = 12,33 %
PBB =
119 + 222 + 440 + 568 + 569 = 1918 gram
Feed Intake =
202 + 309 + 721 + 880 + 880 = 2992 gram
4.
Pemanenan Ayam
Pemanenan
merupakan salah satu tahapan untuk menentukan kualitas produksi. Pemanenan
harus dilakukan dengan benar sehinggas ayam tetap hidup, tidak mengalami stress
serta tidak cedera.
Sebelum melakukan pemanenan,
hentikan pemberian obat-obatan dan antibiotik 5-14 hari sebelum panen. Hal ini
bertujuan agar ayam bebas dari sisa /
residu bahan kimia pada saat dikonsumsi oleh konsumen. Karena dikhawatirkan
akan menimbulkan efek samping pada konsumen.
4.1
Faktor yang mempengaruhi penentuan waktu pemanen
a)
Bobot
Badan : Target bobot badan saat
dipanen biasanya memperhatikan permintaan konsumen. Pada suatu daerah,
terkadang bisa mencapai bobot badan atau malah berkurang dari standar.
b)
Lama
pemeliharaan :
Lama pemeliharaan ayam pedaging adalah 5 minggu. Pada umur ini pertumbuhan ayam
mencapai optimal sehingga panen bisa dilakukan pada masa tersebut.
c)
Harga
jual : ketidakstabilan harga jual ayam sangat
perlu diperhatikan dalam menentukan waktu pemanenan. Bila harga jual ayam
rendah dapat dipertimbangkan kemungkinan memperpanjang waktu pemeliharaan
sampai batas tertentu. Tetapi, apabila harga tinggi lebih baik mempersingkat
waktu pemeliharaan tanpa mempertimbangkan bobot badan dan umur ayam.
d)
Kesehatan
ayam : Terjangkitnya penyakit membuat
peternak dapat mengambil langkah untuk memanen dan menjual ayam baik sebagian
atau seluruhnya. Hal ini dilakukan tanpa mempertimbangkan umur, bobot badan dan
harga jual.
4.2 Peralatan
pemanenen
Ø Penyekat
Ø Tali
rafia
Ø Krat
Ø Timbangan
Ø Alat
tulis
Ø Kendaraan
pengangkut
4.3
Tahapan Pemanenan
a) Mengeluarkan
semua peralatan kandang (tempat pakan dan tempat minum).
b) Menyekat
kandang dengan kawat sekat.
c) Menangkap
ayam dengan benar.
d) Menimbang
ayam.
e) Mencatat
hasil penimbangan.
f) Memasukkan
ayam kedalam krat (keramba).
6.
Pemasaran
Akhir dari masa pemeliharaan ayam
broiler akan bermuara pada pemasaran. Tahap pemasaran ini tidak dapat
dipisahkan dari keberhasilan suatu usaha. Pemasaran yang baik adalah yang tepat
waktu, memakan waktu yang sesingkat-singkatnya dan dengan harga jual yang
relatif tinggi.
Tanpa pemasaran yang baik, ayam dapat
tertunda penjualannya dan terjadi pemborosan dalam penggunaan pakan. Kejadian
harga jatuh karena kelebihan produksi adalah cermin ketidakberesan dalam
pemasaran. Sebaliknya dengan pemasaran yang baik, seorang peternak dapat
mendapatkan hasil usahanya dengan optimal (Suharno, 1997).
Para
peternak biasanya tidak langsung menjual ayamnya ke pasar atau memotong
sendiri, melainkan menjualnya ke perusahaan inti ataupun kelompok peternak.
Perusahaan inti ataupun kelompok peternak ini berfungsi sebagai pengumpul.
Mereka yang akan memasarkan ayam ke pangkalan ayam. Tempat ini umumnya berada di pasar tradisional atau dekat dengan
pasar tradisional (Suharno, 1997)
6.1
Strategi
pemasaran
Strategi
pemasaran merupakan hal yang sangat penting. Strategi pemasaran ini dipengaruhi
oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1) Faktor
mikro, yaitu perantara pemasaran, pemasok, pesaing dan masyarakat.
2) Faktor
makro, yaiitu demografi/ekonomi, politik/hukum, teknologi/fisik dan
sosial/budaya.
Berikut
ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan untuk pemasaran dari sudut pandang
penjual :
1) Tempat
yang strategis (place)
2) Produk
yang bermutu (produt)
3) Harga
yang kompetitif (price)
4) Promosi
yang gencar
Dari
sudut pandang konsumen :
1) Kebutuhan
dan keinginan konsumen (costomer needs and wants)
2) Biaya
konsumen (cost to the customer)
3) Kenyamanan
(convenience)
4) Komunikasi
(comunication)
6.
Analisa Usaha
a)
Pengeluaran
No
|
Uraian
|
Harga
|
Volume
|
Biaya
|
1
|
DOC
|
Rp. 4000
|
100 ekor
|
Rp.400.000
|
2
|
Pakan 5-11 polos
|
Rp. 397.000
|
3 sak
|
Rp. 1.191.000
|
3
|
Pakan 5-11 Bravo
|
Rp. 358.000
|
2 sak
|
Rp. 716.000
|
4
|
5 botol vaksin + dapar
|
Rp. 11.000
|
|
Rp.11.000
|
5
|
Vitastress 50 gr
|
Rp.6.000
|
1 bungkus
|
Rp.6.000
|
6
|
Transportasi
|
Rp.150.000
|
|
Rp.150.000
|
7
|
Bola Lampu
|
Rp.9.000
|
2 buah
|
Rp.18.000
|
8
|
Pakan
|
Rp.8.000
|
28 Kg
|
Rp.224.000
|
9
|
Plastik
|
Rp.16.000
|
1 pak
|
Rp.16.000
|
10
|
Bensin
|
Rp.20.000
|
|
Rp.20.000
|
11
|
Minyak tanah
|
Rp.10.000
|
1 liter
|
Rp.10.000
|
Total Pengeluaran
|
Rp.2.762.000
|
b)
Pendapatan
Ayam
yang dijual 73 ekor x Rp.40.000 = Rp.2.920.000
c) Keuntungan = Pendapatan
Pengeluaran
=
Rp.2.920.000
Rp.2.762.000
= Rp.158.000
d) R/C Ratio = Pendapatan / Pengeluaran
= Rp.2.920.000/ Rp.2.762.000
= 1,05
e) B/C Ratio = Total keuntungan / Total pengeluaran
=
Rp.158.000/Rp.2.762.000
= 0,057
f) Keuntungan / ekor = Keuntungan/Jumlah ayam
= Rp.158.000/73 ekor
= Rp.2.164
g) BEP Harga
= Total biaya produksi/Total produksi
= Rp.2.762.000/73 ekor
= Rp.37.835
h) BEP Produksi = Total biaya produksi/harga jual
=
Rp.2.762.000/Rp.40.000
=
69,05
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
KESIMPULAN
1) Untuk mencapai hasil produksi yang maksimal, peternak harus menggunakan
management yang baik, bibit unggul, serta pakan yang berkualitas.
2) Pemberian
pakan dan minum dilakukan secara ad libithum,sehingga ayam tidak akan
kekurangan pakan dan minum.
3) Vaksinansi dilakukan agar ayam dapat terhindar dari berbagai penyakit yang
mungkin akan menyerang ayam tersebut.
4) Mengidentifikasi
penyakit sangat perlu dilakukan agar mempermudah dalam pengobatan.
5) Untuk
mengatasi naik turunnya harga, peternak harus memiliki kepandaian dan kejelian
untuk memantau situasi pasar.
B.
SARAN
1)
Diusahakan ternak unggas yang dipelihara lebih
bervariasi, tidak hanya ayam broiler saja.
2)
Jumlah ternak yang dipelihara lebih ditingkatkan dan
disesuaikan dengan jumlah siswa yang melaksanakan prakerin di Farm SMK Negeri I
Kota Jantho
3)
Bangunan kandang dan konstruksinya harus diperbaiki, serta
keamanan kandang harus ditingkatkan agar predator tidak dapat masuk ke dalam kandang
sehingga dapat meminimalisir penyebaran penyakit.
4)
Pagar kandang sebaiknya di buat lebih kokoh dan lebih
baik, sehingga hewan dari luar kandang tidak dapat masuk sehingga siswa dapat
memanfaatkan pekarangan di sekitar kandang untuk menanam sayur-sayuran.
Komentar
Posting Komentar